ETI ROHAYATI, Dulu Ikut Majikan Sebagai TKW, Kini Jadi Bos Usaha Rias Pengantin

BERKAT kebulatan tekad dan kesungguhannya memperbaiki nasib, mantan tenaga kerja wanita (TKW) di Arab Saudi ini mampu membalikkan posisi dan statusnya.

Eti bersama model pengantin yang menggunakan jasa tata riasnya. (foto ist)

Dua puluh tahun lalu, Eti Rohayati bekerja pada majikan dan keluarganya di Arab Saudi. Kini, mantan pekerja migran Indonesia (PMI) asal Purwakarta, Jawa Barat, itu bukan hanya telah sukses berwira usaha mandiri. Lebih dari itu, Eti kini menjadi bos yang turut membuka lapangan kerja dan menghidupi 13 karyawan beserta keluarga mereka. Jika dulu ikut majikan, kini Eti menjadikan majikan bagi para karyawannya.

Eti pernah menjadi PMI sebagai pembantu rumah tangga di Arab Saudi tahun 1999-2001. Saat bertolak dari Tanah Air ke Tanah Arab itu, tekadnya hanya satu: ingin mengumpulkan uang untuk modal usaha. Menjadi TKW itu dijadikan sebagai batu loncatan guna meraih peluang yang lebih besar dan terhormat, yakni punya usaha sendiri yang mampu menambah lapangan pekerjaan bagi banyak orang. Suatu tekad dan cita-cita yang sangat mulia.

“Alhamdulillah, ketika itu saya mendapat majikan yang sangat baik. Tugas saya hanya mengurus orang tua. Motivasi saya bekerja di Jeddah adalah untuk mengumpulkan modal berbisnis di Indonesia,” kata Eti yang pada Jumat (28/6/2019) yang diundang tampil bersama dengan motivator nasional sekaligus pakar komunikasi Aqua Dwipayana di acara Halal Bihala dan Seminar Kewirausahaan Bagi Pekerja Migran Indonesia di Muscat, Oman. Acara tersebut terselenggara atas kerjasama KBRI Muscat dan Jaringan Diaspora Indonesia (IDN) Oman yang diketuai Haposan Situmorang.

ETI Rohayati Shanring di Oman. (foto ist)

Tidak ingin berlama-lama, setelah merasa sudah mengantongi modal yang cukup, Eti kemudian memutuskan kembali ke Indonesia untuk berwirausaha. Dalam kesempatan tersebut, dia berbagi pengalaman kepada sekira 200 PMI yang hadir mengenai perjuangannya mendirikan usaha wedding organizer/tata rias pengantin, dan sewa alat-alat pesta di Purwakarta.

“Saya tidak mau terus bekerja untuk orang lain tapi ingin membuka lapangan pekerjaan buat orang lain,” tegas Eti.

Dalam acara yang dipandu pengurus IDN Oman Dr. Devi Femina dan dihadiri Duta Besar RI untuk Oman Muthofa Taufik Abdul Latif itu, Eti menceritakan kisah jatuh bangunnya membangun usaha tersebut. Dia memulai usahanya dengan bermodal dua setelan baju pengantin dan dana Rp75 juta.

Eti Rohayati-Dubes Oman Musthofa Taufik Abdul Latif.. (Foto ist)

Banyak lika-liku yang dialaminya. Pada tahap-tahap awal, sejumlah persoalan mulai dihadapinya. Misalnya, harga sewa yang terlalu tinggi, kekurangan modal, hingga dibatalkan sepihak. Persaingan di bisnis tersebut juga cukup ketat.

Namun, itu semua makin menempa diri Eti dan membuat jiwa kewirausahaannya makin terasah. Dia pun makin gigih dan ulet menjalankan bisnis tersebut. Eti tidak berputus asa dan tetap teguh menjalankan bisnisnya. Guna menambah ilmu dan keterampilannya, dia juga mengikuti berbagai pelatihan keterampilan dan wirausaha yang diadakan oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI).

Para PMI tampak antusias menyimak dan mengajukan pertanyaan saat sesi tanya-jawab. Beberapa diantara mereka menyatakan tertarik membangun usaha dan ingin mengikuti jejak Eti Rohayati.Acara berbagi motivasi dan pengalaman itu makin meriah dengan adanya aneka kuis dan doorprizeberhadiah menarik bagi PMI yang hadir. Selama acara tersebut, KBRI Muscat membuka desk pendaftaran bagi para PMI yang overstayerdan ingin mengikuti program pemulangan di bawah koordinasi KBRI Muscat.

Anugerah Purna PMI Mandiri Plus 2018

Setelah pulang dari Arab Saudi, Eti melihat peluang untuk merintis usaha jasa rias pengantin. Dia pun memberanikan diri terjun menekuni bisnis tersebut. Di awal merintis, tentu usahanya tidak berjalan mulus dan semudah membalikkan tangan. Berkat keuletannya, usaha rias pengantin itu makin berkembang. Dia bahkan kemudian melihat potensi pasar yang bagus untuk mengembangkan sayap usahanya ke bisnis penyewaan alat-alat pesta pernikahan atau acara-acara hajatan lainnya. Ternyata, feeling bisnisnya itu tajam dan terbukti usaha barunya itu juga turut berkembang.

ETI ROHAYATI RAIH PMI PURNA 2018 (Foto ist)

Kini, ibu tiga putra itu telah menikmati kesuksesan sebagai buah dari tekad dan kesungguhan memperbaiki kehidupan ekonomi rumah tangganya. Dia juga merasa bahagia karena bisnisnya itu mampu menghidupi orang lain dan keluarganya. Kini, usahanya itu membukukan omzet mencapai Rp40 juta hingga Rp50 juta per bulan, melibatkan 13 karyawan, danpunya aset barang senilai Rp400 juta.Dengan kesuksesan yang berhasil dia raih, pada 2018 Eti menerima penghargaan Anugerah Purna PMI dari Dinas Tenaga Kerja dan Tranmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Barat.

Ketika itu, Disnakertrans Jawa Barat memberikan Anugerah PMI Purna 2018 kepada tiga pemenang yang dinilai sebagai PMI purna terbaik. Ada tiga kategori hadiah yang diberikan kepada para pemenang terbaik itu, yakni: kategori Mandiri, Mandiri Plus, dan Social Entrepreuneur. Kategori Mandiri untuk usaha beromset Rp5 juta – Rp50 juta. Mandiri Plus untuk kategori usaha beromset Rp50 juta lebih.

Eti Rohayati meraih penghargaan Anugerah PMI Purna 2018 untuk kategori Mandiri Plus. Kategori Mandiri diraih Sugandi asal Kabupaten Majalengka, yang menekuni bidang usaha budi daya jamur merang. Adapun pemenang kategori Sosial Entrepreneur ialah Ramdani dari Kota Bandung, yang mengelola pesantren pelatihan kerja.Eti dan para pemenang lainnya selain mendapatkan piala, juga hadiah satu unit sepeda motor dari Gubernur Jawa Barat.

Eti yang berpendidikan SMA itu pun bersyukur. Kini, kehidupan ekonominya jauh lebih baik ketimbang saat bekerja sebagai TKW di Arab Saudi. Karena itu, dia sama sekali tidak punya pikiran atau berkeinginan untuk kembali bekerja di luar negeri.

“Sudah cukuplah pengalaman saya bekerja di luar negeri. Purwakarta bisa dibilang termasuk salah satu kantong TKI (tenaga kerja Indonesia), tetapi tidak banyak yang tertarik menjalankan bisnis di sini,” ucapnya.

Dia menyayangkan kebanyakan PMI terjebak pada pekerjaan sebagai pengasuh orang tua atau pembantu rumah tangga di Arab Saudi. Mereka enggan berwirausaha di Indonesia. Karena itu, manakala kembali ke Tanah Air dan uang sudah habis, opsi yang mereka miliki hanyalah menjadi PMI kembali. Dan hal itu, kata Eti, akan terus berulang.

Pertanyaannya, sampai kapan siklus seperti itu akan terus berulang? (Nic)

Haris Kai

Read Previous

Dr Aqua Dwipayana ‘Hipnotis’ Ratusan PMI Profesional Qatar dan Pegawai KBRI Doha

Read Next

Data Jumlah, Jenis Kelamin, dan Status Pernikahan Pekerja Migran Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *