AQUA DWIPAYANA: Usaha Mandiri PMI Berpotensi Besar Menggerakkan Ekonomi

Aqua Dwipayana dan Duta Besar RI untuk Qatar M Basri Sidehabi

“PEKERJA migran Indonesia (PMI) punya potensi yang luar biasa. Mereka bukan hanya pahlawan devisa melainkan juga berpotensi sebagai motor penggerak ekonomi negara saat kembali ke Tanah Air,” kata pakar komunikasi dan motivator nasional Aqua Dwipayana.

Doktor ilmu komunikasi dari Universitas Padjadjaran Bandung, Jawa Barat, itu tentu tidak asal bicara. Motivator yang telah berbicara di hadapan ratusan ribu orang di berbagai daerah di seluruh Tanah Air itu juga sudah melanglang buana ke 34 negara. Di negara-negara yang dikunjunginya, Aqua sharing komunikasi dan motivasi kepada puluhan ribu PMI dan staf kantor perwakilan Republik Indonesia, baik di konsulat jenderal (KJRI) maupun kedutaan besar (KBRI). Terakhir, mantan wartawan itu safari sharing komunikasi dan motivasi di Muscat, Oman, dan Doha, Qatar, pada akhir Juni hingga awal Juli 2019.

Berikut petikan wawancara Aqua Dwipayana dengan IGW News.

Bagaimana Anda memandang pekerja migran Indonesia yang sebelumnya populer dengan sebutan tenaga kerja indonesia (TKI)?

PMI atau TKI itu semestinya kita pandang jauh ke depan sebagai penggerak ekonomi bangsa, paling tidak di daerah atau kampung halaman mereka. Mereka jangan semata-mata dilihat pada kondisi saat ini yang disanjung-sanjung dengan sebutan “pahlawan” devisa.

Maksudnya?

Kalau semata-mata dianggap sebagai pahlawan devisa, kesannya mereka hanya dijadikan sebagai “objek” eksploitasi untuk mendulang devisa bagi negara dan tulang punggung ekonomi keluarga. Itu pandangan dan sikap yang tidak manusiawi. Dampaknya kemudian, para PMI seolah ibarat peribahasa “habis manis sepah dibuang”. Setelah tidak lagi bekerja di luar negeri, mereka dilupakan dan kehidupan mereka kembali ke titik nol.

Lalu, bagaimana seharusnya memperlakukan para PMI itu?

Paling tidak, ada tiga perlakuan yang patut diberikan kepada para PMI sejak prapemberangkatan, saat penempatan, dan purna PMI. Pertama, sebelum diberangkatkan ke negara tujuan penempatan, PMI harus mendapatkan pembekalan keterampilan teknis dan nonteknis terkait dengan pekerjaan, termasuk kemampuan bahasa dan pengetahuan sosial budaya setempat serta hak dan kewajiban. Ini terutama sangat penting bagi para PMI sektor penatalaksana atau pembantu rumah tangga.

Kedua, saat penempatan, mereka perlu mendapatkan pendampingan dan pembekalan terkait dengan manajemen keuangan dan kewirausahaan. Ini sangat penting guna memotivasi mereka agar tertanam semangat membangun usaha sendiri di Tanah Air kampung halaman. Perlu terus dibangkitkan kesadaran agar tumbuh tekad untuk tidak terus menjadi pekerja atau mengikuti majikan tetapi menjadi  menciptakan lapangan kerja dan menjadi majikan. Untuk itu, mereka perlu juga mendapatkan berbagai pelatihan teknis yang terkait dengan bidang usaha yang potensial untuk mereka geluti nanti.

Ketiga, pendampingan terus dilanjutkan ketika para PMI purna kerja dan kembali ke Indonesia. Mereka dipertautkan dengan para mitra potensial, termasuk kalangan lembaga keuangan/perbankan guna menguatkan aspek permodalan, manajemen bisnis-keuangan, dan pengembangan usaha.

MOTIVASI DAN PEMBEKALAN – Seorang pekerja migran Indonesia (PMI) mengajukan pertanyaan kepada pakar komunikasi dan motivator Aqua Dwipayana dalam suatu seminar motivasi dan pembekalan kewirausahaan di Muscat, Oman, 28 Juni 2019. (Ist)

Siapa yang seharusnya mengambil peran dalam tiga tahapan tersebut?

Seluruh pemangku kepentingan (stake holders), utamanya pemerintah melalui kementerian/lembaga terkait, seperti Kementerian Tenaga Kerja, dinas ketenagaankerjaan provinsi dan kabupaten/kota, Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), dan kantor perwakilan kita di luar negeri, baik KJRI maupun KBRI.

Selain itu, perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI) juga harus mengambil peran dan tanggung jawab, terutama dalam proses perekrutan, persiapan -pelatihan keterampilan dan pemenuhan persyaratan administratif, dan penyaluran atau penempatan PMI. PJTKI harus memperhatikan aspek legalitas dalam setiap proses tersebut.

Lalu….?

Yang tidak kalah pentingnya ialah PMI itu sendiri. Dalam diri mereka, terutama PMI sektor rumah tangga, harus ada tekad kuat perubahan pola pikir. Mereka harus membuang jauh-jauh keinginan bekerja kembali sebagai pembantu rumah tangga atau buruh di negeri orang dan bertekad kuat mengembangkan usaha mandiri di Tanah Air.

Mereka harus yakin punya potensi sangat besar untuk mengubah nasib dan meningkatkan taraf hidup/ekonomi keluarga dengan membangun usaha sendiri. Dan itu bukan mustahil terwujud jika mereka mampu memanfaatkan potensi diri dan menjadikan pekerjaan sebagai PMI sebagai batu loncatan untuk membangun silaturahim atau jejaring (network) dan mengumpulkan modal.

POTENSI PENGGERAK EKONOMI – Pekerja migran Indonesia (PMI) punya potensi besar sebagai penggerak ekonomi dengan membuka usaha mandiri sepulang di Tanah Air.

Sudah cukup banyak contoh PMI yang sukses merintis usaha sekembali ke Indonesia. Salah satunya ialah Mbak Eti Rohayati asal Purwakarta, Jawa Barat. Selepas menjadi PMI di Arab Saudi pada 1999-2001, Mbak Eti Rohayati mulai merintis usaha tata rias pengantin dan sewa alat-alat pesta. Dia memulai usahanya dengan modal dua setelan baju pengantin dan uang Rp75 juta. Usahanya terus berkembang dan kini omzetnya mencapai Rp40 juta hingga Rp50 juta per bulan, mempekerjakan 13 orang karyawan, dan nilai aset barangnya mencapai Rp400 juta. Karena kesuksesannya itu, Pemprov Jawa Barat memberikan penghargaan Anugerah PMI Purna 2018.

Ada yang bilang bisnis itu bakat. Menurut Anda?

Sukses harus itu diperjuangkan. Awali dengan niat baik dan jangan melewatkan peluang. Orang bilang kesempatan tidak akan datang dua kali. Bisnis bukanlah bakat. Inti dari bisnis adalah marketing dan inti dari marketing adalah silaturahim dan jangan pernah mengecewakan konsumen.

Saat ini, ada raksasa yang sedang tidur nyenyak dalam diri PMI dan kita semua, yakni potensi diri. Bangkitkan potensi diri itu secara optimal.

PMI SUKSES BERBISNIS – Mantan PMI Eti Rohayati dan pengantin yang diriasnya.

Peluang bisnis apa yang terbuka untuk digarap oleh PMI?

Ada tiga jenis bisnis yang terus akan prospektif di masa depan, yakni bisnis makanan, bidang kesehatan -termasuk kecantikan, dan pendidikan. Untuk memulai bisnis, para PMI agar tidak berpikir ruwet, namun berbisnis sesuai kemampuan. Dan jangan hanya tahap wacana atau cita-cita tanpa mulai mewujudkannya.

Usahakan membangun usaha dengan bermitra. Itu berarti kita berbagi rezeki sekaligus risiko. Mintalah dukungan keluarga inti dan libatkan mereka. Janganlah sombong dan serakah apabila telah sukses berbisnis. Nikmatnya berbisnis dapat dirasakan manakala kita punya pesaing dan mampu melewati persaingan.

Untuk mewujudkan semua yang Anda sampaikan itu, apa yang harus dipersiapkan?

Pertama, pendataan PMI secara lengkap dan detil, termasuk aspek jumlah, sebaran demografis, dan geografis, jenis pekerjaan, penyalur kerja, dan pemberi kerja. Kedua, pemetaan potensi PMI, peluang bisnis, pasar, dan mitra usaha. Ketiga, pendampingan atau mentoring secara konsisten dan berkelanjutan.

Aspek terpenting dari langkah pertama itu ialah akurasi data. Ketersediaan data yang akurat akan memudahkan dan menentukan kesuksesan langkah-langkah selanjutnya. (Nic)

Nurcholis Basyari

Read Previous

Inilah Lima Negara Penyerap PMI Terbesar

Read Next

2019, SMP Dominasi Tingkat Pendidikan PMI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *