Gemerlap Kemewahan Dubai Yang Serba Kelas Dunia

DUBAI. Siapa yang tidak kenal Dubai, sebuah kota super megah yang menampilkan kemewahan dan gemerlap pada setiap sudut kotanya. Dubai identik dengan keajaiban dan kemewahan. Gedung spektakuler tertinggi di dunia, hotel termewah di dunia, pusat perbelanjaan terbesar  di dunia, juga pulau-pulau buatan yang di atasnya dibangun hotel-hotel mewah, resor, taman hiburan, dan sirkuit. Sungguh menakjubkan.

Burj Khalifa, misalnya, hingga kini masih merupakan bangunan tertinggi di planet bumi ini. Gedung multiguna yang bernilai US$1,5 miliar ini memiliki ketinggian 828 meter. Kemudian ada Burj Arab yang merupakan hotel mewah bintang 7 setinggi 321 meter. Bahkan di daerah yang panas dan kerontang ini terdapat resor ski yang beroperasi sepanjang tahun dengan taburan salju abadi.

Foto Dubai (dok. www.indosport.com)

Dubai merupakan kota terpadat, pusat komersial dan bisnis di Uni Emirat Arab (UEA). UEA ialah negara persatuan yang terdiri dari tujuh emirat meliputi Abu Dhabi, Ajman, Dubai, Fujairah, Ras al-Khaimah, Sharjah, dan Umm al-Qaiwain. Dubai terletak di pantai Teluk Persia di Uni Emirat Arab dan terletak 16 m di atas permukaan laut.

Emirat Dubai berbagi perbatasan dengan Abu Dhabi di selatan, Sharjah di timurlaut, dan Kesultanan Oman di tenggara. Negara di Gurun Arabia ini mencapai 4.114 km2, emirat terluas kedua setelah Abu Dhabi.

Gambar Peta Dubai (www.akurat,co.id)

Kawasan Dubai terletak di zona subtropis yang beriklim padang pasir. Meskipun demikian, iklim di Dubai memiliki perbedaan yang mencolok antara musim panas dan musim dingin. Saat musim panas (Juni-September), suhu udara pada siang hari bisa mencapai 45 derajat Celcius. Sedangkan pada musim dingin (Desember-Februari), suhu bisa di bawah 10 derajat Celcius pada malam hari. Di kawasan pegunungan bahkan pernah dilaporkan turun salju.

Kilasan Sejarah

Dubai memiliki catatan sejarah yang menarik. Pada 1833, sekelompok suku Bani Yas yang dipimpin keluarga Maktoum bermukim di sekitar muara sungai kecil (creek) di pantai utara semenanjung Arab yang dinamakan Dubai. Puluhan tahun kemudian, Dubai berkembang menjadi pelabuhan alami karena teluk dan creek memudahkan kapal laut membongkar muat barang ke daratan.

Awal abad ke-20, Dubai menjelma menjadi pelabuhan laut yang ramai dikunjungi pedagang dari India, Iran, Arab Saudi dan negara di sekitar teluk lainnya. Komoditi yang dibawa para pedagang itu mulai beragam. Sewaktu ditemukan ladang minyak pada 1966, pemerintah  Dubai  memanfaatkan  pendapatan  hasil penjualan minyak untuk pembangunan infrastruktur. Pada awal 1967, pembangunan besar-besaran segera dimulai, antara lain gedung-gedung sekolah, rumah sakit, jalan raya, jaringan telekomunikasi modern, dan bandar udara internasional yang dapat menampung semua jenis pesawat. Setelah itu, pemerintah memberikan konsesi pada perusahaan minyak internasional. Pada 2 Desember 1971, Dubai bersama Abu Dhabi, dan lima emirat lainnya membentuk Uni Emirat Arab setelah Inggris meninggalkan Teluk Persia.

Pada 2008, populasi Dubai mencapai 2,262 juta dengan kepadatan 408,18/km2. Penduduknya mayoritas berkebangsaan India (42,3%). Sisanya, emiratis atau penduduk lokal (17%), Pakistan (13,3%), Bangladesh (7,5%), bangsa Arab lainnya (9,1%) dan sisanya dikategorikan sebagai ‘Bangsa Barat’ (10,8%). Sepuluh tahun kemudian, jumlah penduduknya mencapai 3,137 juta, mayoritas imigran pekerja berpendapatan rendah di berbagai sektor konstruksi dan sektor-sektor jasa yang tidak memberikan nilai tambah terlalu tinggi, seperti perdagangan ritel.

Pemerintah Dubai berbentuk monarki konstitusional, dipimpin keluarga Al Maktoum sejak 1833. Pemimpin saat ini, Mohammed bin Rashid Al Maktoum, juga menjabat sebagai Perdana Menteri Uni Emirat Arab dan anggota Dewan Tertinggi UEA (SCU). Bersama Abu Dhabi, Dubai memiliki hak untuk veto terhadap masalah kritis kepentingan nasional dalam Dewan Nasional Federal negara itu.

Tenaga Kerja asing Terbanyak

Dubai menarik perhatian dunia melalui proyek real estat yang inovatif dan ajang olahraga. Hal ini meningkatkan perhatian, bersamaan dengan kepentingannya sebagai pusat bisnis dunia.  Tidak heran, di negara teluk itu banak dijumpai kehadiran tenaga kerja asing (TKA).

Di antara negara-negara UEA, populasi TKA terbanyak berada di Dubai. Dari total TKA di UEA yang berkisar 7,3 juta orang, sebanyak 250 ribu di antara mereka bekerja di Dubai. Sebagian besar TKA di Dubai itu berasal dari kawasan Asia Selatan dan bekerja pada proyek pembangunan real estat, seperti Dubai Marina.

Konstitusi UEA menyebutkan perlakuan sederajat terhadap warga negara tanpa memandang ras, kebangsaan, kepercayaan atau status sosial. Di bidang ketenagakerjaan, UEA menerbitkan Undang-undang (UU) Federal No 8/1980 tentang Hubungan Ketenagakerjaan. UU tersebut hanya mengatur tenaga kerja sektor formal, seperti perhotelan, rumah sakit, kapal laut, penerbangan, pabrik/industri, restoran, konstruksi, perbankan, investasi, perdagangan, dan pariwisata. Jika terjadi perselisihan terhadap tenaga kerja formal, penyelesaiannya dilakukan melalui Kementerian Perburuhan (Ministry of Labour) UEA. Pemerintah Indonesia dan pemerintah UEA telah menandatangani perjanjian bilateral (MoU) yang khusus mengatur tenaga kerja formal pada 18 Desember 2007.

Sementara itu, tenaga kerja perorangan atau pekerja domestik yang bekerja sebagai pembantu atau penatalaksana rumah tangga (PLRT), berada di bawah pengawasan Kementerian Dalam Negeri (Ministry of Interior), dalam hal ini Direktorat Jenderal Urusan Kependudukan dan Orang Asing (General Directorate for Residence and Foreigner Affairs)/Ditjen Keimigrasian UEA. Sesuai UU Federal PEA No. 6/1973 tentang Keimigrasian dan Residensi, Ditjen tersebut punya kewenangan yang terkait pengaturan isu PLRT, sopir, pengasuh anak, pengasuh orang jompo, tukang kebun, dan lainnya.

Mulai 1 Juni 2014, pemerintah UEA memberlakukan aturan yang mewajibkan pihak majikan dan pekerja domestik menggunakan unified contract dari pemerintah UEA yang ditandatangani oleh sponsor/majikan dan TKI-PLRT tanpa melibatkan legalisasi dari Perwakilan (KBRI/KJRI). Unified contract pemerintah memerintahkan seluruh agensi perekrut di UEA untuk :

  1. Tidak melakukan ratifikasi perjanjian kerja (PK) bagi TKI-PLRT di Perwakilan RI
  2. Majikan/sponsor TKI PLRT tidak menandatangani kontrak dengan Perwakilan RI

Dalam kaitan tersebut, Perwakilan RI di UEA sejak 15 Oktober 2013 telah menghentikan legalisasi PK TKI PLRT karena PK tersebut selama ini tidak diakui oleh majikan/sponsor dan Pemerintah UEA. Langkah tersebut bagai dilema karena Kementerian Luar Negeri Indonesia menilai kebijakan unified contract itu bertentangan dengan UU RI No. 39/2004 tentang Penempatan dan Perlindungan WNI di Luar Negeri.

Berdasarkan data di Konjen RI di Dubai, terdapat sekitar 125 ribu warga Indonesia yang tinggal di Dubai dengan berbagai profesi. Saat ini, KJRI di Dubai menampung 100 pekerja migran Indonesia (PMI) bermasalah. Mereka umumnya lari dari majikan atau overstay, dan kini sedang tahap penyelesaian agar bisa kembali ke Indonesia.

Bagi WNI di Dubai yang terlibat masalah atau membutuhkan bantuan dari pemerintah RI, dapat menghubungi Konsulat Jenderal RI dengan alamat :

Consulate General of the Republic of Indonesia (Konjen RI)

Al Mina Rd. Street No.2A, Villa No.1 Community 322, Al Hudaiba, Dubai

Po. Box: 73759

Phone: +971 4 398 5666

Fax: +971 4 398 0804

Email: indocons@emirates.net.ae

Jam Kerja Pelayanan Konsuler : Minggu – Kamis

09:00 – 12:00 Penyerahan Dokumen

14:00 – 16:00 Penyerahan Dokumen

Khusus Bulan Ramadhan : Minggu – Kamis

09:00 – 12:00 Penyerahan Dokumen

13:00 – 14:00 Penyerahan Dokumen

Hotline Perlindungan WNI : 056-3322611 / 056-4170333. (Lp)

Penulis : Lita Pantouw, Editor : Nurcholis

Harsen Roy Tampomuri

Read Previous

Komunitas Pers Gelar Piala Presiden Kompetisi Nasional Media

Read Next

Kilas PMI Sepekan: 117 TKI di Malaysia dipulangkan, TKW Majalengka di Arab Saudi Bebas dari Hukuman Mati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *