Sedekah Gaji Tujuh Turunan Rp15,2 Miliar Bebaskan TKW Majalengka Dari Hukuman Mati

BERAT sama dipikul, ringan sama dijinjing. Demikian bunyi peribahasa yang menggambarkan semangat gotong royong. Semangat tersebut dipraktikkan turun temurun oleh bangsa Indonesia sejak dulu kala. Seberapa pun berat persoalan yang dihadapi, dengan gotong royong, beban berat itu dapat terangkat.

Begitulah yang terjadi pada kasus pembebasan Eti Ruhaeti binti Toyyib Anwar dari ancaman vonis hukuman mati di tiang gantung atau bantalan pancung. Tenaga kerja Indonesia (TKI) atau pekerja migran Indonesia (PMI) asal Desa Cidadap, Kecamatan Cingambul, Majalengka, Jawa Barat, itu dikabarkan terbebas dari ancaman hukuman mati pekan lalu.

Eti berangkat mengadu nasib ke Arab Saudi pada 1999. Dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga pada keluarga majikannya, Faisal al Ghamdi, di Thaif, Provinsi Mekah. Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Demikianlah kisah perjuangan Eti yang niat mulia ingin memperbaiki ekonomi dan kesejahteraan keluarganya, namun berakhir tragis.

Bukannya meraup gemerincing riyal dari jerih payahnya sebagai penata laksana rumah tangga (PLRT), Eti malah wajib menggelontorkan uang tebusan atau diyat 4 juta riyal Saudi atau setara dengan Rp15,2 miliar. Itu pun ada masa kedaluwarsanya alias deadline, yakni dalam jangka tujuh bulan. Jika tidak, tenaga kerja wanita (TKW) asal Majalengka itu harus siap menghadapi hukuman mati.

Oleh pengadilan setempat, pada 2001 Eti memang telah dijatuhi vonis hukuman mati atas dakwaan meracuni majikannya hingga menyebabkan sang majikan sakit dan meninggal dunia. Vonis tersebut dijatuhkan atas tuntutan hukum qishas dari keluarga majikannya itu.

Dalam sistem hukum di Arab Saudi, berlaku hukum qishas, yakni hukuman yang setimpal dengan perbuatan terdakwa. Dalam hal ini, nyawa dibalas hukuman nyawa pula. Namun, untuk kasus Eti, ada peluang dia dapat lolos dari hukuman maut itu asalkan pihak keluarga bersedia memaafkannya. Tidak cukup sampai di situ. Setelah pihak keluarga memaafkannya, Eti juga harus membayar uang diyat atau tebusan.

Semula, tebusan yang harus dibayarkan mencapai Rp105 miliar. Setelah melalui proses negosiasi, nilai tebusan itu berkurang menjadi Rp18 miliar hingga akhirnya disepakati menjadi Rp15,2 miliar. Itu kurang lebih setara dengan gaji selama 3.333 bulan atau 277,8 tahun, dengan asumsi gaji PLRT per bulan 1.200 riyal Saudi. Dengan kata lain, bisa dibilang besaran uang tebusan tersebut setara dengan gaji PLRT tujuh turunan.

“Setelah negosiasi yang panjang dan alot, keluarga majikan bersedia memaafkan dengan meminta diyat (tebusan) sebesar SR4.000.000,” ujar ujar Dubes RI untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel dalam keterangan tertulisnya, Kamis (11/7/2019).

Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel (Ist)

Pihak KBRI Riyadh dan wakil ahli waris Faisal al-Ghamdi, yaitu Khalid al-Ghamdi, kemudian bersepakat. Agar Eti dibebaskan dari hukuman mati, dalam waktu tujuh bulan pihak KBRI Riyadh harus menyerahkan 4 juta riyal Saudi kepada ahli waris Faisal al-Ghamdi itu.

“Batas akhir pembayaran sebenarnya berakhir di bulan Sya’ban 1440/ April 2019.”

Penggalangan Dana

Guna mendapatkan dana untuk membayar uang tebusan yang sangat besar tersebut, KBRI Riyadh berupaya menggalang dana bekerja sama dengan sejumlah pihak. Salah satunya ialah Lembaga Amil Zakat Infaq Shadaqoh Nahdlatul Ulama (LAZISNU), yang memberikan Rp12,5 miliar atau sekira 80% dari total kebutuhan dana Rp15,2 miliar untuk menebus Eti.

“Dana Rp 12,5 M tersebut dihimpun oleh LAZISNU selama 7 bulan dari para dermawan santri, dari kalangan pengusaha, birokrat, politisi, akademisi, dan komunitas filantropi,” papar Dubes Agus Maftuh.

Mengingat jumlah yang terkumpul tersebut masih kurang, Dubes Agus Maftuh lalu mengkomunikasikannya kepada pihak ahli waris dan meminta perpanjangan waktu guna menggalang dana kembali untuk menutupi kekurangannya. Kedua pihak sepakat masa tenggang diperpanjang hingga akhir Ramadhan 1440 H yang bertepatan dengan awal Juni 2019.

Hingga masa pepanjangan itu habis,  dana yang dibutuhkan belum juga mencukupi. Dubes Agus Maftuh kemudian meminta penundaan kembali. Pihak ahli waris menyetujui batas waktunya diperpanjang hingga akhir Syawal 1440 H atau awal Juli 2019.

Alhamdulillah, akhirnya, dana senilai Rp15,2 miliar untuk menebus Eti agar terbebas dari jeratan hukuman mati itu dapat terkumpul. “Angka 4 juta riyal (Rp15,2 miliar) tersebut tercapai di hari jelang injury time, yaitu 24 jam menjelang waktu deadline 30 Syawal 1440 H/3 Juli 2019.”

Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel berbincang dengan ibunda Eti Ruhaeti binti Toyyib Anwar (Ist)

Menurut Dubes Agus Maftuh, hasil penggalangan dana selama lebih dari tujuh bulan tersebut telah ditransfer pada 2 Juli 2019 ke rekening yang dibuat khusus oleh Pemerintah Provinsi Mekah untuk kepentingan sumbangan diyat kasus Eti.

“Dengan telah lengkapnya jumlah yang diminta oleh ahli waris, KBRI Riyadh sudah mengirimkan nota diplomatik kepada Kerajaan Arab Saudi dan meminta agar Ety bt Toyyib Anwar bisa segera dibebaskan dan dipulangkan ke Indonesia.”

ASN Pemprov Jabar Sumbang Rp1 Miliar

Warga Jawa Barat, khususnya para aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar, tidak tinggal diam. Mereka juga bahu-membahu mengumpulkan infak dan sedekah guna menambah pundi-pundi dana tebusan Eti. Dana gotong royong atau “saweran” itu mereka salurkan melalui rekening Jabar Peduli.

“Alhamdulillah terkumpul sedekah dari ASN Pemprov Jabar yang dilakukan dua tahap. Tahap pertama terkumpul Rp1 miliar dan sudah ditransfer. Tahap kedua terkumpul Rp400 juta,” kata Gubernur Jabar Ridwan Kamil, Sabtu (13/7/2019).

Menurut Gubernur yang akrab disapa Kang Emil itu, pada Mei 2019 Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jabar melaporkan menerima surat dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah perihal penggalangan dana diyat untuk membebaskan Eti dari hukuman mati.

“KJRI berkoordinasi dengan Lajnah Awfu Taif untuk memastikan dana diyat buat Eti yang ditransfer Pemerintah via KBRI Riyadh telah masuk ke penanggung jawab rekening di sana, yaitu Kantor Gubernur Riyadh,” kata Kang Emil.

Mantan Wali Kota Bandung itu memaparkan dana sedekah dari para ASN Pemprov Jabar yang sempat ditransfer ialah hasil pengumpulan tahap pertama, yakni Rp1 miliar. Adapun dana saweran yang terkumpul tahap kedua masih ada di rekening Jabar Peduli.

“Dikarenakan dana diyat sudah terpenuhi, shodaqoh yang Rp400 juta dari ASN tetap tersimpan di rekening Jabar Peduli.”

Gubernur Jawa Barat Mochamad Ridwan Kamil. (Ist)

Tidak lupa, Ridwal Kamil menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah bergotong royong, bahu-membahu menyumbangkan dana untuk menebus pembebasan Eti Ruhaeti dari hukuman mati.

“Terima kasih untuk kedutaan besar RI di Saudi, Kedutaan Saudi di Jakarta, Kemenlu, Kemenaker, LAZISNU dan para dermawan yang sudah patungan membebaskan TKI warga Majalengka Eti binti Toyib Anwar dari hukuman mati di Arab Saudi setelah 19 tahun ditahan,” tulis Kang Emil di akun Facebook-nya, @mochamadridwankamil.

Kasus Eti tersebut menunjukkan masyarakat Indonesia masih memiliki jiwa gotong royong dan kepeduliaan yang tinggi terhadap nasib sesamanya. Dana tebusan Rp15,2 miliar sesungguhnya amat besar nilainya, setara dengan tujuh turunan bekerja sebagai PLRT. Berkat gotong royong berbagai pihak, mahalnya uang tebusan itu pun menjadi relatif. Beban yang tak tertanggungkan oleh Eti Ruhaeti dan keluarganya di Majalengka pun akhirnya dapat terangkat. Seperti pepatah yang disitir di awal tulisan ini: berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. (Nic)

Nurcholis Basyari

Read Previous

Kilas PMI Sepekan: 117 TKI di Malaysia dipulangkan, TKW Majalengka di Arab Saudi Bebas dari Hukuman Mati

Read Next

Tertarik Bekerja di Jepang? Ini 14 Bidang Pekerjaan yang Tersedia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *