Kilas PMI Sepekan: 117 TKI di Malaysia dipulangkan, TKW Majalengka di Arab Saudi Bebas dari Hukuman Mati

JAKARTA, IGW News. Bebasnya seorang pekerja migran di Arab Saudi dari hukuman mati setelah membayar uang tebusan Rp15,2 miliar menjadi berita besar untuk kalangan pekerja migran Indonesia (PMI) pekan lalu. Eti Ruhaeti binti Toyyib Anwar, nama pekerja migran itu, dihukum mati pada 2001 dan telah menjalani hukuman penjara selama 19 tahun.

Selain kisah Eti, berita tentang pekerja migran juga datang dari negeri jiran, Malaysia. Sebanyak 117 Pekerja Migran dipulangkan secara paksa karena berbagai alasan. Dari Singapura, juga datang khabar, sebanyak 4 PMI kabur dari majikan mereka dan meminta perlindungan kepada KBRI Singapura. Berikut rangkumannya.

117 TKI di Malaysia Dipulangkan Paksa

Malaysia Pulangkan 117 Pekerja Migran Indonesia

Pemerintah Malaysia memulangkan 117 tenaga kerja Indonesia (TKI) atau pekerja migran Indonesia (PMI) melalui Pelabuhan Tunon Taka, Nunukan, Kalimantan Utara, Kamis pekan lalu (11/7/2019). Mereka dipulangkan karena pelanggaran imigrasi, kasus narkoba, dan kasus kriminal lainnya.

Data yang dilansir Konsulat RI Tawau di Malaysia mengungkapkan dari 117 WNI yang diusir tersebut sebanyak 88 laki-laki, 28 perempuan, dan satu anak-anak. Kantor Imigrasi setempat mengatakan 78 orang dipulangkan karena pelanggaran imigrasi, 36 kasus narkoba, dan tiga kasus kriminal.

Sebagian PMI mengaku pernah memiliki dokumen paspor, namun telah habis masa berlakunya. Agar tetap bisa bekerja di Malaysia, para pekerja migran ini kemudian menggunakan  jasa calo pengurusan paspor dan kelengkapan lainnya yang ternyata bermasalah. Namun ketika ditelusuri lebih lanjut, para deportan tidak mengetahui nama calo yang membantu mengurus dokumen keimigrasian tersebut.

Sebelum dipulangkan, para pekerja migran ini sempat menjalani hukuman penjara di Pusat Tahanan Sementara Tawau, Sabbah, Malaysia. **

Empat Pekerja Migran di Singapura Kabur dari Majikannya

Pekerja Migran Indonesia Kabur dari Singapura

Empat Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Singapura melarikan diri dari majikan mereka dan meminta perlindungan kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura pada Kamis, 11 Juli 2019.

Keempat PMI yang bekerja sebagai penata laksana rumah tangga itu bekerja tidak lebih dari tiga bulan sebelum melarikan diri. Keempat orang itu merasa pekerjaan yang diberikan kepada mereka terlampau berat.

Dalam penelurusan lanjutan yang dilakukan oleh Tim Perlindungan PMI Kementerian Tenaga Kerja ditemukan ternyata keempatnya diberangkatkan ke Singapura tidak sesuai dengan prosedur yang seharusnya. Keempat PMI asal Blitar dan Banyuwangi, Jawa Timur, itu diberangkatkan oleh PT IES di Malang tanpa dokumen lengkap, sehingga tidak tercatat pada sistem di KBRI.

Kasubdit Perlindungan TKI Yuli Adiratna sebagaimana diberitakan republika.co.id meminta pertanggungjawaban kepada Perusahaan Penempatan PMI (P3MI) untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Perusahaan juga diminta memulangkan pekerja migran itu ke kampung halaman mereka.

PMI Bermasalah di Singapura

Tim Perlindungan TKI Kemnaker juga akan memastikan gaji dan hak-hak keempat PMI ini  dibayarkan dan mereka tidak akan dibebankan biaya apapun termasuk ganti rugi oleh pihak P3MI, agensi ataupun majikan karena tidak dapat menyelesaikan kontraknya.

Kasus ini mencuatkan kembali isu lama dalam proses pengiriman Pekerja Migran Indonesia yang tidak sesuai prosedur semestinya. Pemerintah menghimbau agar PMI tidak mudah terbujuk sponsor atau pihak mana pun yang menjanjikan bekerja ke luar negeri dengan proses yang cepat tanpa melalui prosedur yang benar. Pemerintah juga mengingatkan seluruh Pelaksana Penempatan TKI Swasta (PPTKIS) ataupun P3MI untuk mematuhi prosedur dan regulasi dalam penempatan PMI. Pemerintah memberikan jaminan kepastian hukum kepada para pekerja migran yang berangkat sesuai dengan prosedur. **

TKI Bebas dari Hukuman Mati Setelah Bayar Tebusan Rp15 Miliar

TKI Batal Dihukum Mati

Rasa syukur tiada terkira tampak pada wajah Eti Ruhaeti binti Toyib Anwar, Pekerja Migran Indonesia asal Majalengka, Jawa Barat. Ia bebas dari hukuman mati yang dijatuhkan pengadilan Arab Saudi kepadanya pada 2001, setelah membayar uang tebusan (diyat) 4 juta riyal Saudi atau setara dengan Rp15,2 miliar kepada keluarga bekas majikannya.

Eti yang bekerja pada keluarga Faisal Al-Ghamdi di Kota Thaif, Arab Saudi, dipenjara sejak 2001 setelah dituduh meracuni majikannya hingga sakit dan meninggal dunia. Dia telah menjalani hukuman penjara selama kurang lebih 19 tahun.

KBRI untuk Arab Saudi menyebutkan bahwa dana tebusan untuk Eti terkumpul dari sumbangan para dermawan di seluruh pelosok Indonesia bersama dengan Nahdlatul Ulama (NU) Care-Lembaga Amil Zakat Infak Sedekah NU. Penggalangan dana tersebut berlangsung sejak 2018. Pemerintah Daerah Provinsi (Pemdaprov) Jawa Barat juga ikut andil dalam upaya pembebasan Eti dan juga pengumpulan dana tebusan tersebut.

Menurut Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, pada Mei 2019 dirinya mendapat laporan dari Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi telah menerima surat dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) untuk Jeddah perihal penggalangan dana diyat untuk membebaskan Eti dari hukuman mati. Kang Emil, Sapaan Ridwan Kamil menyebutkan, beberapa upaya yang dilakukan dengan mengumpulkan shodaqoh ASN Pemdaprov Jabar melalui rekening Jabar Peduli.

Seperti dikutip IDN Times, hingga kini Disnakertrans Jabar tetap berkomunikasi dengan KJRI untuk menunggu proses administrasi Mahkamah Pengampunan sampai akhirnya Eti binti Toyyib Anwar dapat dipulangkan ke Tanah Air. “Semoga cepat-cepat bisa pulang ke Majalengka,” harap Gubernur Emil. **

Reporter: Satrio Nugroho

Editor: Harsen

Harsen Roy Tampomuri

Read Previous

Gemerlap Kemewahan Dubai Yang Serba Kelas Dunia

Read Next

Sedekah Gaji Tujuh Turunan Rp15,2 Miliar Bebaskan TKW Majalengka Dari Hukuman Mati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *