Tertarik Bekerja di Jepang? Ini 14 Bidang Pekerjaan yang Tersedia

Jakarta-IGW News, Pemerintah Jepang saat ini tengah membuka kesempatan kerja sebanyak 345 ribu kepada tenaga kerja asing, termasuk Indonesia. Jumlah pekerjaan sebanyak itu tersebar ke dalam 14 sektor, dengan kebutuhan tenaga kerja terbesar ada di sektor perawat lanjut usia (careworker).

Jepang mengharapkan kebutuhan tenaga kerja sebanyak ini dapat terisi dalam lima tahun ke depan. Indonesia sendiri menargetkan dapat memenuhi sekitar 20% atau sekitar 70.000 dari total kuota tenaga kerja yang dibutuhkan.

Dalam sebuah acara penandatanganan kerja sama Jepang Indonesia Juni lalu, terungkap ke-14 sektor pekerjaan yang dibutuhkan Jepang itu antara lain adalah perawat, industri jasa makanan, cleaning service, konstruksi dan pertanian.

Berikut tabel lengkap jumlah pekerja yang dibutuhkan pada masing-masing sektor.

Sektor dan Jumlah Kebutuhan Tenaga Kerja Asing di Jepang

  Sektor jumlah pekerja
1 Careworker  60.000
2 Building Cleaning Management 37.000
3 Machine Parts & Tooling Industries 21.500
4 Industrial Machinery Industry   5.250
5 Electric, Electronics, and Information Industries   4.700
6 Construction Industries 40.000
7 Shipbuilding and Ship Machinery Industry 13.000
8 Automobile Repair and Maintenance   7.000
9 Aviation Industries   2.200
10 Accomodation Industies 22.000
11 Agriculture 36.500
12 Fishery and Aquaculture   9.000
13 Manufacture of Food and Beverages  34.000
14 Food Service Industries 53.000

Untuk lapangan kerja sebanyak itu, Jepang memang membidik kalangan pekerja berketerampilan spesifik atau yang dikenal dengan nama Specified Skilled Worker (SSW). Indonesia sendiri berkomitmen untuk mendapatkan kuota yang ditawarkan. Untuk itu pemerintah, sebagaimana disampaikan Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri akan menggenjot kompetensi tenaga kerja sesuai yang diperlukan melalui sejumlah pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK). Selain kompetensi teknis, aspek bahasa juga akan menjadi perhatian. Selama ini pengusaan bahasa Jepang memang menjadi salah satu kendala dalam pengiriman tenaga kerja Indonesia ke Jepang.

“Ini adalah kesempatan bagi kita untuk mengisi jabatan-jabatan di sektor formal yang banyak dibutuhkan di Jepang,” ujar Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri di Jakarta, Selasa (25/6/2019).

Penandatanganan MoU Indonesia-Jepang di Jakarta, 25 Juni 2019

Pemerintah tentu tak akan berjalan sendiri. Menteri Hanif mengajak keterlibatan pihak swasta dalam hal penyiapan tenaga kerja Indonesia, melaui penyelenggaraan program pelatihan keterampilan kerja maupun pelatihan Bahasa Jepang.

Meski secara prinsip kesempatan kerja ini terbuka untuk semua kalangan, namun untuk tahap awal, prioritas diberikan kepada mereka yang telah memiliki pengalaman magang kerja di Jepang. Ada empat kategori tenaga kerja yang berpeluang mendapatkan pekerjaan di Jepang. Pertama, kelompok yang memiliki pengalaman magang kerja di Jepang dan berangkat bekerja ke Jepang dari Indonesia. Mereka ini lazim disebut Ex-TIT (Technical Intern Trainee (TIT).

Kelompok kedua adalah mereka yang telah menyelesaikan program magang di Jepang dan kemudian memutuskan untuk melanjutkan kereja di negeri Sakura itu. Ketiga, adalah mereka yang telah menyelesaikan sekolah di Jepang dan memutuskan untuk bekerja di Jepang. Kelompok terakhir adalah  pendatang baru, mereka yang belum punya pengalaman magang maupun pernah sekolah di Jepang dan berangkat ke Jepang dari Indonesia.

Kebijakan Jepang membuka peluang bagi Tenaga Kerja Asing secara besar-besaran ini memang relatif baru. Selama ini, negeri matahari terbit itu terkenal relatif tertutup bagi TKA. Perubahan kebijakan ini tentu tak terlepas dari persoalan kelangkaan tenaga kerja yang tengah dihadapi Jepang di tengah makin menuanya usia tenaga kerjanya. Bagi Indonesia yang tengah menghadapi datangnya bonus demografi, terbukanya lapagagan kerja di Jepang ini merupakan kesempatan yang baik.

Di mata Menteri Hanif Dhakiri, terbukanya kesempatan kerja ini merupakan hal yang menguntungkan, baik bagi Jepang maupun Indonesia. “Kita targetkan lima tahun depan, kita dapat mengambil sekitar 20 persen atau 70 ribu orang dari kebutuhan tenaga kerja asing di Jepang,” katanya.

Saat ini jumlah warga asing di Jepang diperkirakan 2,3 juta yang mayoritas merupakan pekerja asing yang didominasi pekerja asal China. Data kementerian Kehakiman Jepang yang dilansir pada 2018 mencatat jumlah warganegara Indonesia di negeri sakura itu sebanyak 56.346 orang termasuk di dalamnya para pemagang dan pekerja asal Indonesia. Selama ini penyaluran tenaga kerja asal Indonesia dilakukan melalui program magang kerja, yang terutama diprioritaskan untuk  bidang  industri, otomotif,  tekstil,  listrik, manufaktur, mesin dan bangunan. **

Reporter: Argo Editor: Nurcholish  

Harsen Roy Tampomuri

Read Previous

Sedekah Gaji Tujuh Turunan Rp15,2 Miliar Bebaskan TKW Majalengka Dari Hukuman Mati

Read Next

Kemnaker Gandeng AWS Latih Cloud Computing 400 Instruktur Balai Latihan Kerja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *