Azwan, Lahir dari Keluarga TKI di Ladang Sawit Malaysia, kini Tumbuh Jadi Pemuda dengan Segudang Prestasi

Jakarta, IGW News – Kegigihannya sebagai seorang anak tenaga kerja Indonesia (TKI) mampu membuktikan bahwa anak TKI bahkan yang lahir dan dibesarkan di ladang sawit sekalipun mampu untuk berprestasi.  

Hampir 20 tahun lalu tepatnya pada tanggal 25 Agustus 1999 Azwan terlahir sebagai anak ke 4 dari 4 bersaudara. Anak dari pasangan pekerja migran bapak Yusuf dan Ibu Haria ini dilahirkan dan dibesarkan selama 14 tahun di negara tetangga Malaysia. Kedua orang tua Azwan adalah TKI atau pekerja migran Indonesia yang berasal dari kabupaten Polewali Mandar, provinsi Sulawesi Barat. Mereka bekerja di Sabah Malaysia, di salah satu perusahaan perkebunan kepala sawit.

Awalnya, ayah dari Azwan masih bujangan ketika merantau ke Malaysia dan begitu juga dengan ibunya. Mereka merantau ke Malaysia sejak tahun 1970-an dan dan menikah pada tahun 1987. Anak pertama mereka terlahir dua tahun kemudian setelah menikah, anak kedua lahir pada tahun 1990, anak ketiga pada tahun 1994 dan Azwan lahir sebagai anak terakhir pada tahun 1999. Jadi, semua anak termasuk Azwan dilahirkan dan dibesarkan di Sabah Malaysia. Bahkan sampai sekarang kedua orang tua dan tiga saudaranya masih tinggal dan bekerja disana.

Azwan lahir dan dibesarkan di ladang kelapa sawit di Sabah Malaysia, siapa yang menyangka jika kini dia tumbuh menjadi pemuda dengan segudang prestasi yang membanggakan sekolah, kampus di mana dia kuliah saat ini serta membanggakan keluarga. Prosesnya memang tidak mudah tapi Azwan mampu membuktikan bahwa menjadi seorang anak pekerja migran tidaklah membatasinya untuk  terus berprestasi dan berkarya.  

Lulus Kelas 1 SD Azwan Sempat Bekerja di Ladang Kelapa Sawit

Awalnya pada tahun 2006 Azwan sekolah di sekolah milik Kerajaan Malaysia. Namun, karena bukan warga negara Malaysia, Azwan hanya sampai duduk di bangku kelas 1 SD. Setelah itu, Azwan menganggur sekolah dan membantu orang tua bekerja di perkebunan kelapa sawit. Di perusahaan kebun kelapa sawit ini, ada sekolah yang diberi nama Humana. Humana adalah sekolah swasta milik Filipina tapi menggunakan kurikulum Malaysia. Semua anak Indonesia berstatus warga negara Indonesia (WNI) akan bersekolah disitu.

Azwan Kecil Ketika Bekerja di Kebun Sawit di Sabah Malaysia Tahun 2006 (Dok. Azwan)

“Sekolahnya tidaklah luas seperti pada umumnya di Indonesia, sekolahnya seadanya saja,” kata Azwan pada Minggu (21/7/2019). Azwan sempat sekolah di sekolah ini sambil tetap ikut ayahnya bekerja di kebun sawit, biasanya pada hari Sabtu dan Minggu. Kadang ketika liburan sekolah juga Azwan ikut ayahnya kerja di kebun sawit. Kerja ini bukanlah paksaan orang tua atau perusahaan tetapi inisiatif Azwan sendiri yang ingin bekerja membantu orang tua.

Azwan Kecil Ketika Bekerja di Kebun Sawit di Sabah Malaysia Tahun 2006 (Dok. Azwan)

Pada tahun 2011, ada kabar baik untuk Azwan dan anak-anak Indonesia di Sabah Malaysia. Terdengar informasi bahwa anak-anak Indonesia bisa mengikuti tes ujian paket A dan nanti yang lulus bisa sekolah dan langsung duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Waktu itu, Azwan tak mau melewatkan kesempatan dan segera mendaftarkan diri, “Alhamdulillah Azwan lulus dan bisa melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah pertama,” ungkap Azwan sambil tersenyum mengingat kisahnya saat itu. Sekolah ini adalah sekolah Indonesia yang didirikan di kebun atau ladang-ladang kelapa sawit.

Sekolah Azwan di Ladang Kelapa Sawit Sabah Malaysia (Dok. Azwan)

Sekolah ini merupakan solusi alternatif dari induk Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK). Awalnya sekolah Indonesia hanya ada di kota Kinabalu saja. Namun dikarenakan anak Indonesia tidak hanya tinggal di kota Kinabalu, akhirnya didirikanlah CLC (Community Learning Center) diberbagai ladang supaya semakin banyak anak TKI yang mau sekolah. Anak Indonesia banyak juga yang berada diladang atau kebun-kebun kelapa sawit se-Sabah Malaysia. Jarak untuk ke SIKK sekitar 5-7 jam dari ladang-ladang.

Suka Duka di Malaysia sampai Bisa Sekolah dan Kuliah di Indonesia

“Ada berbagai macam cobaan bagi Azwan dan keluarga selama tinggal dan bekerja di Malaysia tetapi tak sedikit juga anugerah dan rezeki yang didapatkan,” ucap Azwan mengenang perjuangannya bersama keluarga selama di Malaysia. Yang paling diingat oleh Azwan yakni keseharian ayahnya yang bekerja di ladang kelapa sawit. Walaupun panas, hujan dan kadang sakit tetap saja ayahnya pergi bekerja. Hal ini dikarenakan penghasilan ayah Azwan tidaklah tetap, tergantung seberapa banyak buah kelapa sawit  yang bisa dijatuhkan dari pohonnya.

“Hal inilah yang membuat saya terus semangat mau merubah nasib keluarga,” kata Azwan. Begitu juga dengan ibunya, ibu dari Azwan sering sakit kepala dan punya sakit maag yang sudah parah. Walaupun begitu, ibunya selalu semangat dan tidak memperdulikan sakitnya demi masa depan anak-anak. Azwan juga sering dimotivasi oleh ibunya untuk sekolah dengan baik karena ibu dan bapaknya juga sadar betul akan pentingnya pendidikan. Bekerja keras adalah pilihan ayah dan ibunya karena memang jika tidak demikian, biaya hidup anak-anak dan biaya sekolah Azwan tentu sulit untuk mereka penuhi.

Hal ini juga yang terus membuat Azwan semangat belajar dan terus mengukir prestasi. Pengalaman hidup sebagai anak pekerja migran di Sabah Malaysia banyak mengajarkan Azwan dan saudara-saudaranya arti hidup bersama keluarga. Termasuk soal ketaatan beragama, kemandirian, kerja keras, bertanggungjawab dan nilai-nilai hidup lainnya. Azwan menyampaikan bahwa orang tuanya sangat banyak mengajarkan arti kehidupan pada mereka. Walaupun diakui Azwan bahwa ayah dan ibunya bukanlah orang dengan kualitas pendidikan yang baik.    

Dari semua pengalaman hidup di Malaysia bersama keluarga, Azwan mencoba wujudkan mimpinya untuk melanjutkan pendidikan, terus berprestasi dan berkarya. Awalnya Azwan ikut paket A, setelah paket A dia kemudian lanjut sekolah SMP atau CLC 3 tahun di Sabah Malaysia. Setelah selesai SMP Azwan sebenarnya ingin melanjutkan sekolah di pulau Jawa tetapi orang tuanya lebih menginginkannya untuk sekolah di Sulawesi Barat yakni kampung halaman kedua orang tuanya.

Hingga akhirnya Azwan sekolah di Indonesia dan memilih Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Polewali di Sulawesi Barat. Setelah lulus dari SMK, Azwan mohon izin ke orang tua untuk bisa kuliah di pulau Jawa. Azwan pun mendapatkan kesempatan untuk kuliah di salah satu kampus terbaik Indonesia yang berlokasi di kabupaten Sleman provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Fakultas Ilmu Sosial jurusan Ilmu Administrasi Negara Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menjadi tempat kuliahnya saat ini.

Azwan bersama Ibu dan Ayahnya Saat Acara Kelulusan di SMKN 1 Polewali Mandar (dok. Azwan)

Pemuda Segudang Prestasi

Tidak hanya ketika sekolah dan kuliah di Indonesia, sejak bersekolah di Malaysia Azwan sudah menunjukkan prestasinya. Dari segudang pengalaman dan prestasi yang pernah dimilikinya, ada beberapa yang menurutnya berkesan dan memotivasi Azwan untuk terus berprestasi. Saat itu Azwan masih sekolah di SMP dan berkesempatan mengikuti kompetisi bulu tangkis antar pelajar di Sabah Malaysia dan memperoleh juara 2. “Alhamdulillah bisa membuktikan sama bapak kalau Azwan bisa mengikuti jejak bapak sebagai seorang atlet bulu tangkis,” ucapnya. .

Azwan dalam Sebuah Pertandingan Bulu Tangkis Antar Pelajar di Sabah Malaysia (dok. Azwan)

Sejak kecil ayah dari Azwan melatihnya agar bisa bermain bulu tangkis. Selain prestasi non akademik, ada juga prestasi akademik yang berkesan bagi Azwan yakni mendapatkan nilai 100 Ujian Nasional SMP se-Sabah. Dengan prestasi ini, Azwan bisa membuktikan bahwa anak TKI juga bisa berprestasi. Bisa berprestasi seperti anak-anak lainnya walaupun pendidikan mereka terhitung prematur karena tidak melalui SD dan hanya bermodalkan ijazah paket A. Meski nampaknya sederhana jika dibandingkan dengan prestasinya yang lain tetapi ini yang dirasa paling berkesan bagi Azwan ketika SMP.

Azwan bersama Teman-teman Sekolah saat memenangkan perlombaan antar siswa di Sabah Malaysia Tahun 2013 (dok. Azwan)

Tak hanya sampai di SMP, prestasi Azwan berlanjut ketika melanjutkan sekolah ke Indonesia tepatnya di SMK. Tidak terpikirkan sebelumnya jika Azwan dengan latar belakang anak TKI yang dibesarkan di Malaysia bisa dipercayakan sebagai ketua OSIS di SMKN 1 Polewali. Azwan terus terdorong untuk berprestasi bahkan sampai ke tingkat nasional. Alhasil Azwan bisa menjadi utusan provinsi Sulawesi Barat ke tingkat nasional sebagai Parlemen Remaja tahun 2016. Selain itu, Azwan lolos sebagai 100 ketua OSIS terbaik se-Indonesia dan kembali mewakili provinsi Sulawesi Barat ke Lomba Lawatan Sejarah Nasional di Yogyakarta dan berhasil meraih 10 besar dari 200-an peserta utusan provinsi se-Indonesia.

Mendapatkan Penganugerahan Mahasiswa Berprestasi FIS UNY 2018

Kuliah menjadi kesempatan emas bagi Azwan untuk terus berprestasi dan menunjukkan bahwa anak TKI juga bisa. Setahun yang lalu Azwan mendapatkan penganugerahan mahasiswa berprestasi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta tahun 2018. Azwan juga bersyukur karena pada tahun yang sama boleh menjadi penerima Beasiswa Unggulan Masyarakat Berprestasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Tahun 2019 saat memasuki semester 4 perkuliahan, Azwan juga lolos di salah-satu kegiatan paling bergengsi bagi mahasiswa Indonesia yaitu PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) yang diselenggarakan oleh Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

Azwan dan Rekan Satu Tim Saat Mendapatkan Hadiah dan Piagam Penghargaan
Juara I Lomba Esai Nasional UK-MAPANZA di Universitas Airlangga 2017

“Persaingan di PKM bukanlah hal yang mudah sehingga lolos terdanai saja sudah sangat bersyukur. Apalagi jika dinyatakan lolos Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 32, semoga Azwan bisa lolos PIMNAS 32 yang akan diselenggarakan di Bali pada akhir Agustus mendatang 2019,”. Azwan juga mampu bersaing ditingkat nasional memenangkan sejumlah kompetisi penulisan esai. Sampai ditahap ini Azwan mampu menunjukkan bahwa dia juga bisa berprestasi seperti anak Indonesia lainnya. Apapun latar belakang orang tua bahkan yang seperti Azwan yakni kedua orang tuanya berprofesi sebagai pekerja migran pun anak-anaknya bisa berprestasi.

Azwan Ketika Memenangkan Kompetisi Esai Nasional,
Juara III Esai Nasional PGSD Universitas Negeri Medan 2019

Ingin melihat anak pekerja migran lainnya ikut berprestasi dan memiliki masa depan yang lebih baik, Azwan menginisiasi sebuah komunitas anak pekerja migran. Dia berharap komunitas ini bisa menjadi wadah bersama dalam mengembangkan dan memfasilitasi anak-anak pekerja migran Indonesia. Impian terbesar Azwan yakni kelak bisa bermanfaat dengan asal usulnya sebagai anak pekerja migran. “Karena Azwan anak TKI, Azwan punya mimpi dan harapan besar. Ketika sudah punya pekerjaan yang baik dan jaringan yang lebih banyak, Azwan ingin memberikan beasiswa pada anak-anak TKI,” ungkap Azwan.

Azwan mengakui perjalanannya sampai bisa kuliah saat ini tidaklah mudah. Dahulu susah sekali baginya untuk sekolah apalagi untuk memperoleh beasiswa. Jadi Azwan tahu bagaimana susahnya menempuh pendidikan dengan menggunakan biaya dari orang tua. Hingga Azwan saat ini mendapatkan beasiswa unggulan, itu memerlukan proses yang panjang, Perlu juga ketekunan serta kegigihan untuk belajar, berprestasi dan menggunakan setiap kesempatan dengan baik. Berikut beberapa capaian prestasi yang boleh diraih oleh Azwan sejak sekolah hingga kini kuliah di UNY. (Hr)

Prestasi Selama Jadi Siswa SMP :

– Juara I Lomba Cerdas Cermat tingkat Sekolah 2013

– Juara II Pidato Bahasa Indonesia tingkat Sekolah 2013

– Juara I Badminton Tunggal Putra tingkat Sekolah 2013

– Juara I Tennis Meja Tunggal Putra tingkat Sekolah 2013

– Juara II Badminton Team (Tim Bulu Tangkis) Se-Sabah Malaysia 2013

– Nilai Ujian Nasional Tertinggi Matematika (100) se-Sabah Malaysia 2014

Prestasi Selama Jadi Siswa SMK Negeri 1 Polewali:

– Juara II O2SN Cabang Olahraga Badminton Tunggal Putra Tingkat Kabupaten 2015

– Juara Harapan III Tari Kreasi tingkat SMA Sederajat se-Polewali Mandar, Festival Budaya  2016

– Juara I Tari Kreasi Tingkat Provinsi Sulawesi Barat di Universitas Sulawesi Barat 2016

– 10 Besar Pemilihan Duta Parawisata Daerah Polewali Mandar 2016

– Juara I Penulis Berita Terbaik Tingkat SMA Sederajat Se-Sulawesi Barat 2016

– Juara Harapan II Lawatan Sejarah Daerah Tingkat Regional Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tengah 2016

– 10 Besar Lawatan Sejarah Nasional tingkat Nasional di Daerah Istimewa Yogyakarta 2016

– Parlemen Remaja DPR RI se-Indonesia 2016

– 100 Ketua Osis Terbaik se-Indonesia 2016

– Penghargaan Siswa Berprestasi Nasional 2017 dari SMK Negeri 1 Polewali

– Penghargaan Dedikasinya sebagai Ketua OSIS 2015 – 2016 dari SMK Negeri 1 Polewali

– Ketua PHISTEG 2017 (Ketua Angkatan Lulusan SMK 2017)

Prestasi Selama Jadi Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta

– Mahasiswa Teraktif PKKMB Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta 2017

King of Public Administration, FIS UNY 2017

– Juara I SPC (Short Paper Contest) Se-Fakultas Ilmu Sosial UNY 2017

– Juara II Esai Nasional di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang 2017

– Juara I Esai Nasional UK-MAPANZA di Universitas Airlangga 2017

– Awarde Beasiswa Unggulan 2018

– Juara III Esai Nasional SSU UKM Keilmiahan dan Penalaran Fakultas Ilmu Budaya UNS 2018

– Duta Lingkungan FIS UNY 2018

– Penganugerahan Mahasiswa Berprestasi FIS UNY 2018

– Juara III Esai Nasional PGSD Universitas Negeri Medan 2019

– Didanai Proposal Dikti PKM-M 2019

– Juara I Pekan Ilmiah Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta bidang PKM-M 2019

– Mendapatkan Dana Hibah Penelitian Fakultas Ilmu Sosial UNY 2019.

Editor : Harsen Roy Tampomuri

Harsen Roy Tampomuri

Read Previous

Hong Kong, Referensi Impian Pekerja Migran Indonesia

Read Next

Wuih, Devisa Pekerja Migran Indonesia Tujuh Kali Investasi Proyek MRT Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *