Peduli Sesama Anak TKI, Azwan Dirikan Komunitas Anak TKI Permata Ibu Pertiwi

Jakarta, IGW News – Salah satu urgensi yang tidak bisa ditawar-tawar oleh pemerintah Indonesia yakni terkait isu pendidikan. Hal ini jelas merupakan bagian dari amanat konstitusi yang termaktub dalam Pembukaan Undang-undang Dasar (UUD) 1945. Apakah ini juga merupakan milik anak TKI yang orang tuanya pahlawan devisa bagi negara? Tentu pendidikan ini tidak hanya mencakup sebagian warga negara Indonesia saja.

“Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia,”.

Jelas dalam pembukaan UUD 1945 menyampaikan bahwa upaya mencerdaskan kehidupan bangsa berlaku bagi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Dengan kata lain bahwa anak TKI juga baik yang tinggal di Indonesia bahkan yang tinggal di luar Indonesia selayaknya mendapatkan akses pendidikan yang sesuai.

Jika saat ini kesenjangan antara kualitas dan fasilitas pendidikan wilayah perkotaan dan pedesaan masih terlihat, sama halnya juga dengan pendidikan untuk anak-anak TKI yang tinggal di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Masih sulitnya anak-anak Indonesia untuk melanjutkan kuliah di Indonesia mendorong Azwan yang kedua orang tuanya adalah TKI untuk mendirikan Komunitas Anak TKI.

Azwan selaku pendiri Komunitas Anak TKI Permata Ibu Pertiwi beraudiensi dengan
Pimpinan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Yogyakarta pada tahun 2019. (Dok. Azwan)

“Komunitas ini berdiri atas dasar ingin membantu saudara-saudara kami di perantauan yang ingin sekolah di Indonesia. Kami juga berdiri untuk membantu mengembangkan potensi yang ada didalam diri mereka masing-masing,” ucap Azwan selaku pendiri Komunitas Anak TKI Permata Ibu Pertiwi. Komunitas ini lebih banyak berfokus pada anak TKI di daerah Sabah Malaysia.

Azwan juga manyampaikan bahwa menggagas komunitas anak TKI sebenarnya sudah lama menjadi mimpinya. “Sejak duduk dibangku SMK saya sudah bermimpi untuk mendirikan komunitas anak TKI,” ungkap Azwan. Beliau mengakui bahwa waktu itu masih sulit untuk diwujudkan karena berbagai halangan termasuk belum banyaknya orang yang mengetahui asal usul sekolah mereka. Saat itu Azwan lebih memilih untuk mempromosikan aktivitas sekolah mereka lewat prestasi para anak TKI dan berbagai kegiatan yang dilakukan serta diikuti.

Dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya, akhirnya semakin banyak orang yang mulai mengenal dan ramai mencari tau apa itu Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) dan Community Learning Center (CLC). “Sembari itu, saya juga rajin upload foto-foto kegiatan dan prestasi anak TKI sebagai bukti dan motivasi untuk orang-orang diluar sana bahwa kami anak TKI juga mampu dan bisa seperti anak Indonesia pada umumnya,” tegas Azwan.

Terus berproses, hingga Azwan duduk dibangku kuliah semester awal. Azwan ikut bergabung di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Penelitian Universitas Negeri Yogyakarta. Setelah dinyatakan lolos sebagai pengurus, Azwan menjadi pengajar Karya Ilmiah Remaja (KIR) di salah satu sekolah di Yogyakarta, tepatnya di MAN 4 Bantul. Beberapa bulan mengajar KIR, Azwan mencoba berdiskusi dengan pihak sekolah terkait kerinduannya untuk membantu teman-temannya anak TKI yang punya mimpi untuk lanjut SMA bahkan sampai kuliah.

Membantu Sabah Bridge untuk mencari sekolah-sekolah yang mau menerima anak TKI. Berhasil ke Madrasah Aliyah Negeri 4 Bantul, DIY. Tahun 2019 ada 4 anak yang akan ke MAN 4 Bantul dengan biaya pendidikan gratis yang akan dibiayai oleh Sabah Bridge. Sabah Bridge merupakan komunitas guru-guru sekolah Indonesia yang ada di Sabah Malaysia. (Dok. Azwan)

“Alhamdulillah, berjalannya waktu, Azwan berhasil mendapatkan 4 kuota beasiswa di sekolah tersebut,” ungkapnya. Bagi Azwan, mendidirkan sebuah komunitas merupakan cara agar kedepannya bisa bersama anak-anak TKI lainnya sudah kuliah untuk mencari sekolah yang mau menerima anak TKI. Tahun 2019 merupakan momentum yang baik bagi Azwan bersama beberapa anak yang orang tuanya bekerja di Malaysia sebagai pekerja migran. Mereka berhasil mendirikan organisasi dengan nama Komunitas Anak TKI Permata Ibu Pertiwi.

Selaku pendiri komunitas, Azwan memberikan pesan bagi seluruh anak TKI untuk bisa menggunakan setiap kesempatan sekecil apapun itu dengan baik. “Harapan terbesar saya untuk saudara-saudara saya sesama anak migran di negeri Jiran Malaysia, ayo kita sekolah, kita belajar dan berprestasi,” ucap Azwan.  Menurutnya, bersekolah dan kuliah bisa bermanfaat bagi mereka untuk menjadi generasi yang produktif bagi bangsa dan negara serta membawa kebanggaan juga bagi orang tua.  

Sekolah dan kuliah juga menjadi sarana bagi mereka untuk dipertemukan dengan teman serta sahabat dari berbagai ragam latar belakang dan identitas. “Jangan bilang kamu anak TKI dan kamu tidak bisa, kamu pasti bisa, pasti bisa!” ungkap Azwan untuk mendorong teman-temannya sesama anak TKI. Azwan menyampaikan bahwa jika anak TKI punya mimpi, harapan dan cita-cita jangan pernah bilang tidak mungkin.

“Saya hanya anak ladang dan anak seorang TKI. Apa mungkin akan jadi seorang yang hebat? Tentu bisa terwujud ketika ada keberanian untuk merubah diri,” ucapnya. Bagi Azwan, ilmu itu memang mahal makanya harus membayarnya dengan belajar yang giat dan menjadi anak yang berprestasi juga punya karya. (Hr)

Editor : Harsen Roy Tampomuri

Harsen Roy Tampomuri

Read Previous

Hari Anak Nasional : Pesan Menteri KPPPA dan Pesan Anak TKI untuk Pemerintah

Read Next

Inilah Sejumlah Program Menarik Komunitas Anak TKI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *