Eli Astuti Dewi, Mantan TKW di Malaysia Yang Kini Sukses Jadi Pengusaha Jamur di Lampung

TIDAK selamanya akhir kisah hidup seorang pekerja migran Indonesia (PMI) yang mengalami pengalaman tidak menyenangkan saat bekerja di negeri orang juga akan berujung pada kepahitan. Cerita sedih dari para pejuang devisa di luar negeri kerap terjadi. Namun sesungguhnya, tidak sedikit pula PMI yang sukses mengangkat derajat kehidupan mereka menjadi jauh lebih baik dan menginspirasi banyak orang.

Eli Astuti Dewi, PMI purna asal Lampung Timur, salah satunya. Dia kini sukses menjadi pengusaha keripik jamur. Walaupun Dewi sempat mendapati dirinya berada di titik paling rendah dalam hidupnya, tapi dengan berbekal keyakinan dan semangat pantang menyerah, dia pelahan berhasil bangkit dari keterpurukannya.

Kisah kelamnya berawal ketika pada 2007 Dewi bekerja di Singlun Garment Sdn Bhd, Johor Bahru, Malaysia. Di perusahaaan garmen tersebut Dewi bertugas sebagai operator mesin jahit. Gaji pokok hariannya RM14, saat itu setara dengan Rp28.000.

“Jadi setiap bulan gaji habis untuk kebutuhan sehari-hari. Saya bisa kirim uang ke kampung jika ada kerja lembur atau ada kerja borong di pabrik,” kata Dewi kepada IGW News , Jumat (30/8/2019).

Suami Dewi, Edison, juga ikut bekerja di daerah yang sama dengannya diJohor Bahru, tetapi dengan jarak jempuh sekitar 2-3 jam bila naik bis. Edison bekerja di perkebunan sebagai penebang kayu dengan status PMI non-prosedural. Karena itu, Dewi jarang bertemu dengan suaminya dan kalau pun hendak bertemu, mereka lakukan secara sembunyi-sembunyi di tengah hutan.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, pada 2008 Edison mengalami musibah kecelakaan, yaitu kakinya terkena mesin pemotong pohon. Dengan status suaminya sebagai pekerja migran ilegal, Dewi harus menanggung sendiri biaya pengobatan dan perawatan suaminya, bahkan juga biaya operasi kaki yang dilakukan dua kali. Dewi terpaksa harus menyewa rumah di sekitar tempat kerjanya supaya bisa bekerja sambil merawat suaminya. Hal itu dijalani selama kurang lebih delapan bulan dan selama itu pula gajinya selalu habis hanya untuk biaya hidup mereka berdua di Malaysia.

Tahun 2010, Dewi memutuskan untuk kembali ke tanah air dengan alasan tidak bisa lagi mengumpulkan hasil kerja kerasnya demi keluarga. Merasa gagal dan malu karena pulang kampung tanpa membawa hasil apapun, Dewi mengurung diri di rumah. Sejak kepulangannya sampai tahun 2014, dia tidak pernah bersosialisasi dengan masyarakat sekitar.

”Saya merasa malu dan rendah diri, bekerja ke luar negeri tapi tidak mendapat hasil, dan bingung mau memulai usaha tapi tidak mempunyai uang,” kenangnya.

Dewi ketika menjadi narasumber Pelatihan Wirausaha Baru Produktif dari Dinas Tenaga Kerja Provinsi Lampung (dok pribadi)

Di akhir tahun yang sama, Dewi pelahan mulai membuka diri dan mengikuti organisasi Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI). Dan pada Oktober 2015, dia berkesempatan mengikuti pelatihan Pemberdayaan TKI Purna dari program Badan Nasiona Penempatan dan Perlindungan Tenagar Kerja Indonesia (BNP2TKI) tentang cara berbudidaya jamur tiram. Dalam kesempatan itu juga, Dewi membentuk kelompok usaha PMI Purna yang bernama Berkah Jamur. Dia sebagai ketua kelompok.

Setelah mengikuti pelatihan, Dewi bersama suaminya memulai usaha budidaya jamur tiram dengan membeli 1.000 baglog, media tanam jamur tiram yang sudah terinokulasi atau diberi bibit, dan berkembang hingga bisa mencapai 2.000 baglog. Tetapi karena merasa hasil yang diperoleh tidak maksimal, akhirnya Dewi memutuskan untuk membuat baglog sendiri. Dan alhasil, dia bisa memenuhi kebutuhan keluarga dari pemanenan jamur tiram tersebut.

Kemudian mulai 2017, Dewi  berusaha mengembangkan usahanya menjadi budidaya dan pengolahan. Dia mengawali dengan membuat keripik jamur dan ternyata mendapat respon dari Dinas UMKM dan Dinas Perindag Lampung Timur. Usahanya membuahkan hasil karena keripiknya disukai banyak orang dan berkembang pesat. Dewi mulai sering diundang ke acara-acara yang memungkinkan dia dapat memasarkan produk jamurnya.

”BNP2TKI selalu memberi kesempatan kepada saya untuk ikut pameran di Trade Expo Indonesia atau pameran-pameran yang disenggarakan oleh BNP2TKI. Dengan ketelatenan saya berusaha dan alhamdulillah… mendapat respons dari Dinas Perindag, saya banyak dibantu mesin-mesin produksi, seperti spinner (peniris minyak), siller countinue, dan alat pemotong keripik,” jelasnya.

Dewi bersama salah satu Kasi Pemberdayaan UMKM, Dinas Koperasi UMKM Lampung Timur, saat menerima bantuan dari pemerintah (dok pribadi)

Di awal Agustus 2019, Dewi mendapat kesempatan untuk menerima bantuan hibah dari Kementerian Koperasi dan UKM berupa uang Rp12 juta. Dewi sangat bersyukur karena dengan bantuan tersebut, jalan untuk mengembangkan usahanya terbuka lebar. Dengan usahanya yang semakin maju, kini dirinya sering diundang sebagai narasumber bagi pelatihan ibu-ibu di desa. Bahkan dia dipercayai oleh BP3TKI Lampung untuk mengemban tugas sebagai Community Organizer Komunitas Keluarga Buruh Migran (CO KKBM) di Lampung Timur. Salah satu tugasnya yakni mendampingi kelompok usaha PMI Purna yang mengalami masalah berwirausaha di beberapa wilayah Lampung Timur.

Kini, Dewi yang memiliki usaha keripik jamur GRES (Gurih Renyah Enak Sehat) ini adalah seorang wirausahawan yang penuh percaya diri, optimistis, dan menjadi inspirasi bagi PMI Purna lainnya. Tidak ada lagi Dewi yang dulu hanya meratapi nasib, rendah diri, dan mengurung diri di rumah. Dewi yang sekarang sibuk dengan kegiatan pengembangan diri dan usahanya. Akhir Agustus ini, saat IGW News menghubunginya, Dewi mengatakan ada kunjungan dari LPPOM dan Dinas Perindag Provinsi Lampung.

 “Saya tidak menyangka akan berada di posisi ini. Dulu saya selalu tidak percaya diri dan selalu bertanya-tanya. Apa yang harus saya lakukan? Saya mau usaha apa? Seperti apa saya akan membiayai sekolah anak saya?” ujar Dewi seraya menambahkan berkat usaha yang dia jalani sejak 2015 itu, dia bisa menyekolahkan anaknya hingga sekarang kuliah semester ke-5 di Institut Agama Islam Negeri. “Saya tidak akan berhenti berusaha karena saya selalu berpikir bahwa HASIL TIDAK AKAN MENGKHIANATI USAHA KITA. Semoga saya selalu diberi kesehatan dan kesempatan untuk lebih mengembangkan usaha saya yang memang dari nol. Semua ini berkat dukungan dari BNP2TKI khususnya BP3TKI Lampung, Dinas Koperasi UMKM dan Dinas Perindag Lampung Timur. Saya mengucapkan banyak terima kasih atas motivasi yang selalu diberikan kepada saya,” tutur Dewi memungkasi kisahnya.

Lita Pantouw

Read Previous

KILAS PMI SEPEKAN: Pemerintah-Bank BUMN Garap Potensi PMI untuk Berinvestasi

Read Next

Lupa Bahasa Indonesia, Seorang PMI di Arab Saudi Yang 28 Tahun Hilang Kontak Akhirnya ‘Video Call’ Dengan Keluarga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *