Kisah Heroik Anak TKW Memulangkan Ibunya Yang 11 Tahun Kerja di Saudi Tanpa Terima Gaji

RINDU yang tak tertahankan dan kecemasan terhadap nasib ibunya di Arab Saudi memompa kuat adrenalin Ida Farida (26 tahun). Warga Desa Kalijaya, Kecamatan Telagasari, Karawang, Jawa Barat, itu pontang-panting ke sana-sini untuk dapat melacak keberadaan dan keadaan ibunya yang seolah lenyap ditelan bumi.

Agustus 2008, Sartini binti Dakyani, ibu kandung Ida, terbang mengadu nasib sebagai tenaga kerja wanita (TKW). Sartini bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di rumah seorang majikan dan keluarganya di suatu kampung yang berjarak sekira 715 kilometer dari Riyadh, ibu kota Arab Saudi. Ketika itu, Ida yang masih berusia 15 tahun, baru masuk SMA.

Dari kanan ke kiri: Ida Farida, Rasmi (nenek), Sartini, dan dua adik Ida Farida, yakni Tia dan Hamzah. (Dok. Pribadi)

Mulanya, komunikasi Sartini dengan putri sulungnya itu lancar-lancar saja. Pihak sponsorlah yang memfasilitasi komunikasi ibu-anak itu via sambungan telepon seluler atau handphone (HP). Namun, itu tidak berlangsung lama. Keluarga di Karawang, Jawa Barat, kemudian benar-benar kehilangan kontak dengan Sartini.

“Semenjak sponsor bermasalah (kemudian bangkrut), kami jadi hilang kontak. Kalau enggak salah setelah tiga tahun di Arab Saudi. Lama-lama tak kunjung ada kabar dari mamah. Saya tanya-tanya ke sponsor dan PT yang menampung mamah saya juga tak ada hasil,” ungkap Ida kepada IGW News. PT yang dia maksud ialah perusahaan pengerah jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI) atau pelaksana penempatan TKI swasta (PPTKIS). Dia menyebut nama PT Nangumah Sejati.

Ida mulai galau. Dia cemas terjadi apa-apa dengan ibunya di Tanah Arab. Sebagai anak tertua, dia berinisiatif mencari tahu keberadaan dan keadaan ibunya. Remaja perempuan ini memilih menghindari jasa para calo dan mengurus sendiri dengan mendatangi lembaga atau instansi pemerintah. Dari desanya, waktu tempuh ke pusat kota Karawang sekira 45 menit jika naik sepeda motor/ojek. Dari Karawang ke Jakarta, waktu tempuhnya mencapai sekira 2,5-3 jam.

“Waktu itu banyak yang bersedia membantu. Cuma, saya bertekad untuk mengurus sendiri. Mulai dari datang ke BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia) sejak 2015 bulan Agustus sampe dua tahun prosesnya. Kami tidak kunjung mendapatkan kontak mamah saya,” tutur Ida mengenang perjuangannya menelusuri keberadaan ibunya.

Alumni program D3 Sistem Informasi Akuntansi (2015-2018) STMIK Kharisma Karawang itu kemudian ke Kementerian Luar Negeri. Dari sana, anak pertama dari tiga bersaudara itu disambungkan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Riyadh. Tim Perlindungan Warga KBRI Riyadh kemudian menelusuri keberadaan Sartini hingga akhirnya terlacak bekerja di Desa Tabah, Kabupaten Syinan, Propinsi Hail, sekira 715 km dari Riyadh. Desa tersebut hanya berpenduduk 149 orang.

Sartini Binti Dakyani. (Dok. pribadi)

“Barulah setelah itu saya dapat kabar kembali untuk pertama kalinya. Ibu saya telepon pakai HP majikan karena dikasih tahu sama KBRI.”

Ida dan keluarga di Karawang pun bersuka cita karena akhirnya dapat berkomunikasi dengan Sartini. Apalagi, kondisi Sartini baik-baik saja. Menurut Ida, selama bekerja sebagai sisten rumah tangga di Hail, ibunya tidak mendapatkan perlakuan kasar atau kekerasan fisik, baik dari Aqil al Syamly maupun keluarga majikannya itu.

Namun, Ida dan keluarganya kemudian kecewa lantaran Sartini tidak dapat langsung dipulangkan ke Indonesia oleh pihak majikan. Kekecewaan itu makin bertambah manakala Ida tahu ibunya belum menerima gaji bulanan yang menjadi haknya atas kerja keras yang dia lakukan selama 11 tahun sebagai PRT.

“Padahal, ibu saya selalu minta pulang. Dan parahnya, gajinya juga tidak dibayarkan. Kata ibu saya, enggak pernah dikasih uang,” ujar Ida.

Anak seorang ayah yang bekerja sebagai buruh tani itu tidak putus asa. Dia terus menjalin kontak dengan pihak KBRI Riyadh. KBRI Riyadh pun menyampaikan info mutakhir terkait dengan upaya pemulangan Sartini. “Berkali-kali pula pihak KBRI meminta agar majikan memulangkan ibu saya. Alhamdulillah, akhirnya ibu saya bisa pulang 23 Agustus lalu.”

Tanpa Dibekali Uang, Ketinggalan Pesawat di Dubai

Sartini tiba di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng pukul 22.30 WIB. Ida tak kuasa menahan haru dan merasakan syukur yang mendalam. Akhirnya dia dapat melihat sosok ibunya pulang ke Tanah Air dalam kondisi sehat selamat.

Maklum, Sartini yang 11 tahun tidak pulang-pulang ke Indonesia dan hilang kontak, sempat ketinggalan pesawat Ettihad saat transit di Bandara Internasional Dubai. Rupanya, dia tertidur pulas sesaat setelah tiba di Bandara Dubai dari Hail. Ketika bangun, tahu-tahu sudah pukul 06.00 waktu setempat. Padahal, jadwal penerbangan pesawat Ettihad yang ditumpanginya ialah pukul 04.00. Di dalam bangunan bandara yang megah dan gemerlap itu, Sartini dilanda kecemasan. Tidak punya handphone (HP) dan tidak bisa mengoperasikannya, dia celingak-celinguk sendirian. Tidak seorang pun di sekelilingnya ada yang dia kenal. Hatinya gundah dan merasa sangat tidak enak meski sesungguhnya suasana dan fasilitas bandara internasional itu dibuat agar para penumpang pesawat yang singgah di dalamnya nyaman.

Sartini (kdua dari kanan) bersama Rasmi (ibunya, paling kanan), Hasan (suami, paling kiri), dan dua anak mereka, yakni Hamzah dan Tia. Mereka masih tinggal menumpang di rumah Nenek Rasmi. (Dok. Pribadi)

“Pas dipulangkan ke Indonesia, parahnya majikan tidak koordinasi dangan pihak Kedutaan. Jadi, main dipulangin aja.”

Saat terbang dari Bandara Hail di Arab Saudi, Sartini memang bagai burung yang begitu saja dilepas terbang oleh majikannya. Tuan majikan Sartini hanya membelikan tiket penerbangan Hail-Dubai-Jakarta dan menitipkan secarik kertas. Dia terbang “seorang diri” di tengah deretan panumpang lain yang tampak asing. Itulah untuk pertama kalinya dia naik pesawat setelah 11 tahun silam terbang perdana saat berangkat ke Arab Saudi.

Di tengah kebingungan itulah, Sartini meminta bantuan ke kru maskapai penerbangan yang ada di bandara tersebut. Beruntung, kru itu menaruh iba dan ringan tangan membantu perempuan 49 tahun itu dengan mengontak Ida Farida.

“Mamah saya cuma dikasih pegangan selembar kertas yang bertuliskan nomer HP saya, enggak dikasih uang cash. Dia telepon saya, bilang ketinggalan pesawat di Bandara Dubai. Karena bingung, saya langsung kontak Pak Sa’dun dan Pak Gugun (staf Sa’dun di KBRI Riyadh),” ujar Ida.

Mendapat laporan tersebut, Atase Ketenagakerjaan (Atnaker) KBRI Riyadh Sa’dullah Affandy yang akrab dipanggil Sa’dun segera mengontak rekannya, Atnaker di KBRI Abu Dhabi dan KJRI Dubai. Sa’dun minta tolong sejawatnya itu membantu menerbangkan Sartini ke Jakarta tanpa harus beli tiket lagi.

“Alhamdulillah, Mamah saya akhirnya bisa ikut penerbangan kedua sekitar pukul 10 waktu setempat hari itu (Jumat, 23/8/2019),” kata Ida.

Dia dan keluarga yang ikut menjemput di Bandara Soetta sempat pulang lagi ke rumah mereka. Setiba di rumah, mereka mendapat kabar bahwa Sartini sudah berada di pesawat, dalam penerbangan menuju Jakarta. Mendapat kabar tersebut, mereka langsung balik lagi ke Bandara Soetta. Sepanjang perjalanan, mereka was-was, khawatir terkendala macet sehingga terlambat sampai Bandara Soetta.  

“Alhamdulillah, dibantuin Pak Tono dan Pak Bawono dari kepolisian yang mengamankan Mamah saya saat sampai di bandara sehingga Mamah saya enggak kebingungan meski kami belum sampai. Terharu saat sampai bandara, ternyata Mamah saya sudah di Pospol bareng polisi yang mengamankan. Alhamdulillah banyak sekali yang bantuin tanpa saya duga-duga dan tanpa saya kenal sebelumnya hingga kami sampai ke rumah di Karawang,” kata Ida seraya mengucap syukur kepada-Nya dan berterima kasih kepada semua pihak yang memberikan bantuan hingga ibunya bisa pulang.  

Kini Sartini, Ida, dan keluarga mereka tengah menunggu gaji yang belum dibayarkan itu segera ditransfer oleh si majikan. Mereka berharap pihak KBRI berhasil mendesak majikan agar mau membayar semua gaji yang menjadi hak Sartini. “Mamah saya enggak bawa uang sepeser pun. Dia cuma bawa pakaiannya selama tinggal di sana, tidak bawa apa-apa lagi,” ungkap Ida seraya mengatakan yang dibawa ibunya itu bukan pakaian baru dan tidak banyak.

Ida merasa perjuangannya belum kelar karena gaji ibunya yang masih tertahan di majikan. Sesuai perjanjian, kata Ida, semestinya ibunya paling kurang mendapatkan hak gaji 800 riyal per bulan. Dia memaparkan selama 11 tahun bekerja itu, hanya pada tahun pertama gaji ibunya terkirim. Setelah itu, keluarga di Karawang tidak pernah lagi menerima transferan gaji. Terakhir, tahun lalu Ida sempat menerima rapelan enam bulan gaji ibunya dalam dua kali transfer. Sisanya sekira Rp300 jutaan masih belum dibayarkan. Dia mengatakan, beberapa waktu lalu majikannya sempat mentransfer namun tertolak karena salah menulis nama Ida Farida selaku penerimanya. Ida yang selama ditinggal Sartini menumpang di rumah neneknya bersama ayah dan dua adiknya itu sangat mengharapkan uang gaji ibunya segera ditransfer. “Untuk bangun rumah sama usaha buka toko. Rumah mamah sudah roboh,” ujar Ida.

Nurcholis Basyari

Read Previous

Berdampak positif, Pemprov DKI Akan Lanjutkan Perluasan Sistem Lalu Lintas Ganjil Genap

Read Next

Alis Juariah, TKI Asal Cianjur Yang 21 Tahun Kerja di Arab Saudi, Dijanjikan Segera Pulang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *