Operasi Katarak Bangkitkan Asa Hasan Dapat Kembali Baca Qur’an

SEJAK dua tahun silam, Hasan Han (51 tahun) merasakan dunia ini gelap gulita. Kedua mata petani Rejang Lebong, Bengkulu, itu tidak bisa lagi melihat terangnya dunia di sekelilingnya lantaran terkena katarak. Dia sering merasa frustrasi seolah dirinya tiada lagi berguna dan hidup terasa tidak berarti. Maklum, seperti lelaki dan orang tua pada umumnya, Hasan juga ingin dapat memandangi wajah istri dan menyaksikan tingkah polah anak-anaknya.

Hasan Han didampingi Mulyanah, istrinya, akan menjalani operasi katarak gratis yang digelar di RSUD Curup, Jumat (13/9/2019).
(Foto: M Nasir)

Dan, ini yang membuatnya hatinya gundah gulana ditimpa kesedihan yang mendalam. Sebagai seorang muslim, dia ingin dapat kembali membaca Kitab Suci Al Qur’an. Sejak penglihatan matanya terganggu, Hasan  tidak pernah  lagi dapat membaca Al Qur’an.

“Rasanya kesal terhadap keadaan. Sebenarnya saya juga ingin baca Al Qur’an, ingin mendengarkan suara saya mengaji. Tapi ya bagaimana lagi, mata gelap. Saya yakin masih bisa baca Al Qur’an kalau katarak saya sudah diambil,” tutur Hasan, warga Desa Airpikat, Kecamatan Bermaniulu, Rejang Lebong, saat tengah mengantre panggilan operasi katarak di RSUD Curup, Jumat (13/9/2019).

Hasan Han didampingi istrinya, Mulyanah, tengah mengantre menunggu giliran panggilan untuk menjalani operasi katarak di RSUD Curup, Rejang Lebong, Bangkulu, Jumat (13/9/2019). (Foto: M nasir)

Hasan termasuk di antara 97 warga yang mendapat layanan operasi katarak gratis dalam kegiatan bakti sosial (baksos) kolaborasi antara Univeritas Yarsi Jakarta, Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong, RSUD Curup, dan Badan Musyawarah Masyarakat Bengkulu di Jakarta, dan PWI Peduli Pusat. Sesungguhnya, jumlah warga yang mendaftar mencapai 138 orang. Namun, berdasarkan hasil pemeriksaan pendahuluan, kondisi 41 orang lainnya tidak memenuhi syarat untuk menjalani operasi katarak di acara baksos tersebut.

“Terima kasih, saya mendapat kesempatan operasi katarak gratis di sini. Semoga Allah membalas kebaikan ini,” kata Hasan yang ditemani istrinya, Mulyanah (48) dan anak-anaknya.

Mulyanah berharap setelah operasi katarak, suaminya bisa bekerja seperti semula sebagai buruh tani dan tidak dituntun-tuntun lagi.

Operasi katarak dan khitanan massal gratis itu diselenggarakan guna membantu masyarakat mendapatkan layanan kesehatan yang mereka butuhkan, terutama dalam mengatasi katarak dan khitan yang bagi anak laki-laki beragama Islam itu hukumnya wajib. Sebelum kegiatan tersebut dilaksanakan, para pengelola pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) dan tokoh masyarakat menginformasikannya kepada masyarakat.

“Saya hanya menyerahkan KTP, Kartu Keluarga, dan KIS (Kartu Indonesia Sehat) untuk ikut operasi katarak ini. Alhamdulillah, gratis, tidak dipungut biaya. Awalnya, saya kebetulan sedang berobat ke Puskesmas. Petugas yang mengamati penglihatan saya bertanya apakah mata saya kena katarak. Dia kemudian memeriksa mata saya juga dan menawari ikut operasi katarak ini,” kata seorang perempuan peserta operasi katarak yang dikonfirmasi oleh peserta lain di sampingnya.  

Hadir dalam acara pembukaan baksos katarak, antara lain Ketua Umum Badan Musyawarah Masyarakat Provinsi Bengkulu se-Jabodetabek Mulyadi Kahar, Ketua Himpunan Keluarga Manna Bengkulu Selatan di Jakarta Dokter Lilian, tokoh masyarakat Rejang Lebong di Jakarta Laksamana Pertama Dr H Faisal Manaf,  Bupati Rejang Lebong Ahmad Hijazi, Rektor Universitas Yarsi Prof dr Fasli Jalal, PhD, Ketua PWI Peduli Pusat M Nasir yang juga Direktur Kesejahteraan dan Pengabdian Masyarakat Persatuan Watawan Indonesia (PWI) Pusat bersama Ketua Bidang Komunikasi dan Publikasi PWI Peduli Pusat Nurcholis MA Basyari.

“Kami berterima kasih kepada semua pihak yang bekerja sama, juga kepada PWI Peduli Pusat yang kerja sama dengan Universitas Yarsi, sehingga bakti sosial berjalan sukses,” kata Fasli Jalal didampingi Wakil Rektor III Universitas Yarsi yang menangani bidang pengabdian masyarakat Dr Himmi Marsiati, Ms.

Penyuluhan Dana Desa dan Bela Negara

Menurut Ketua Panitia Pelaksana Baksos tersebut Dr Suhirman Madjid, SE, MSi, Ak, CA, yang juga dosen Fakultas Ekonomi Universitas Yarsi, selama kegiatan sosial berlangsung pada 13- 14 September 2019, panitia melayani operasi katarak gratis 96 orang, sunatan massal 54 anak, penyuluhan dana desa yang diikuti 167 orang, dan penyuluhan kesehatan yang dihadiri 160 orang.

Baksos kali ini dilakukan bersama kegiatan penyuluhan penggunaan dana desa dan penyuluhuan kesehatan, serta bela negara. Dalam penggunaan dana desa, Bupati Ahmad Hijazi meminta para aparat desa berhati-hati dan jangan sampai masuk penjara. “Kalau staf desa ada yang masih muda, kuliahkan dengan uang dana desa di jurusan akuntansi supaya bisa menghitung dan membuat laporan dana desa,” kata Hijazi. (Nic)

Nurcholis Basyari

Read Previous

Kuwait, Negara Kaya Minyak Yang 70% Penduduknya Ekspatriat

Read Next

KILAS PMI SEPEKAN: 85 Pekerja Migran Asal NTT Meninggal Dunia, Pemerintah Dorong Petugas Desmigratif Mendata Pekerja Migran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *