Ini 3 Program Besar Globalisasi Yang Harus Diwaspadai Menurut Badan Siber dan Sandi Negara

Pekanbaru, IGW News – Arus globalisasi mengusung tiga program besar yang harus diwaspadai agar tidak menjadi ancaman bagi ketahanan nasional Indonesia.

Wakil Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Komjen Pol. Drs. Dharma Pongrekun memperingatkan hal itu saat menjadi pembicara dalam Seminar Kebangsaan Bagi Generasi Muda di Gereja Bethel Indonesia, Pekanbaru, Riau, Sabtu (26/10/2019).

Wakil Kepala Badan Siber dan Sandi Negara Komjen Pol. Drs. Dharma Pongrekun saat menjadi pembicara dalam Seminar Kebangsaan Bagi Generasi Muda di Gereja Bethel Indonesia, Pekanbaru, Riau, Sabtu (26/10/2019). (Ist)

Seminar kebangsaan tersebut digelar untuk membangun semangat kebangsaan bagi generasi muda dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2019. Kegiatan yang dihadiri antara lain oleh Kapolda Riau Irjen Pol Agung Stya Imam Mahdi itu diikuti oleh sekira 200 peserta dari berbagai elemen masyarakat, akademisi, mahasiswa, dan perwakilan organisasi masyarakat.

Pada seminar kali ini Dharma Pongrekun menyampaikan paparan mengenai ‘’Tantangan Generasi Muda Menghadapi Era Keterbukaan dan Goncangan ‘Global”. Dharma menjelaskan bagaimana pengaruh kemajuan teknologi di era keterbukaan dan globalisasi ini telah membawa bangsa Indonesia ke dalam sistem dunia yang lebih besar dan tidak terbatas. Globalisasi menjadi alat untuk mengkoneksi secara global seluruh aspek meliputi ekonomi, sosial, budaya, dan politik yang membuat setiap orang mampu mengakses informasi baik dalam bentuk gambar, tulisan, maupun video secara bebas dan tanpa batas.

Menurut Dharma, globalisasi memiliki tiga program besar, yaitu money, power, dan control. Program money sudah sukses dengan bersatunya sistem ekonomi seluruh dunia. Program power, masuknya sistem global ke dalam sistem dan struktur pemerintahan di seluruh dunia. Adapun program control, hampir seluruh manusia di dunia dikendalikan pola kehidupannya melalui kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.

Wakil Kepala BSSN Komjen Pol. Drs. Dharma Pongrekun. (Ist)

Rekayasa Kehidupan

Dharma memaparkan rekayasa kehidupan (life engineering) tersebut dilakukan secara terstruktur, sistematis, dan masif (TSM) sejak dunia diciptakan. Di era modern, rekayasa kehidupan dilakukan melalui fase-fase revolusi industri, yang akhirnya bermuara pada bertemunya teknologi informasi dan teknologi komunikasi melalui internet sekitar 20-30 tahun lalu. Sejak itulah globalisasi menjadi gelombang yang sangat dahsyat yang sepertinya tidak bisa dihindari.

Saat ini, seluruh aspek kehidupan manusia terhubung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. “Sekarang ini, sarana TIK yang begitu masif dipakai manusia sehari-hari adalah smartphone,” ujar Darma.

Dia mengatakan alat komunikasi tersebut memang didesain untuk menyajikan kecepatan dan kemudahan akses informasi sehingga diterima manusia secara luas. Secara natural, manusia memang menyukai hal yang praktis sehingga alat ini diterima secara masif. Namun, di dalam alat itu disisipi aplikasi-aplikasi yang memiliki kemewahan, pornografi. dan candu.

Di balik segala kemudahan teknologi informasi yang ada, kemajuan teknologi juga memiliki risiko dan ancaman. Teknologi tersebut juga digunakan oleh berbagai negara untuk memenangkan persaingan global. Di titik itulah, perang sebagai bentuk puncak persaingan antarnegara turut berevolusi.

Peperangan kini tidak hanya terkait dengan kontak fisik dengan senjata konvensional, tetapi berkembang menjadi perang siber atau informasi yang berbasis pada penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Serangan siber kini telah berkembang sampai pada tahap mampu melumpuhkan sebagian atau seluruh siber nasional karena sifatnya yang mengancam jiwa manusia, kestabilan ekonomi, politik, sosial budaya, dan kedaulatan negara sehingga dapat membuat Indonesia mengalami krisis siber.

Menanggapi fakta tersebut, Wakil Kepala BSSN menegaskan negara harus hadir untuk mengantisipasi dan siap bahu-membahu bersama seluruh rakyat indonesia menghadapi segala dampak negatif dari sistem globalisasi. Langkah dalam menghadapi ancaman dari sistem globalisasi suatu negara adalah dengan memperkuat ketahanan nasional dengan kembali kepada Pancasila, UUD 1945 dan Kebhinekaan yang harus di jaga keutuhannya.

Menutup paparan, Wakil Kepala BSSN mengajak semua generasi muda agar kembali kepada jati diri sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang maha kuasa. Hanya dengan mendekatkan diri kepada Tuhan dapat menetralisir segala dampak negatif dari sistem globalisasi dan menyelamatkan diri kita sendiri dan tanah air kita dari proses kehancuran kehidupan secara global. (Nic)

Nurcholis Basyari

Read Previous

PMI Alis Juariah Yang 21 Tahun Kerja di Saudi Belum Juga Pulang, Keluarga Tagih Janji KBRI Riyadh

Read Next

Ida Fauziyah, dari Kursi Guru ke Kursi Menteri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *