Mengenal Tapa Kolo, Makanan Khas Manggarai NTT

IGW News, Manggarai – Indonesia sangat kaya akan keberagaman baik itu suku, budaya, agama dan latar identitas lainnya. Dibalik keberagaman itu, lahirlah juga ragam tradisi kuliner khas daerah. Kali ini kita akan membahas tentang makanan khas daerah yang berasal dari Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tepatnya di Pulau Flores.

Jika berkunjung ke bumi Flores, anda tidak hanya akan disungguhi keindahan alamnya saja, tetapi juga beragam kebudayaan dan kuliner bakalan membuat anda ingin terus menelusurinya. Mendengar makanan bernama Tapa Kolo mungkin saja masih asing di telinga anda, namun bagi sahabat pekerja migran yang berasal dari Manggarai pasti sangat mengenal makanan ini.

Masyarakat Manggarai mengolah Tapa Kolo sebagai sajian khas daerah (Sumber foto: Sergio S.)

Inilah makanan khas tahunan yang menjadi sajian di wilayah Manggarai. Secara harafiah Tapa Kolo berasal dari kata ‘Tapa’ yang artinya ‘bakar’ dan ‘Kolo’ yang artinya ‘nasi bambu’. Kuliner khas daerah Manggarai ini merupakan makanan tradisional yang sudah ada sejak zaman dulu. Berbahan dasar beras merah, Tapa Kolo dibuat dengan cara dibakar di dalam bambu.

Masyarakat Manggarai biasanya mengolah Tapa Kolo untuk disajikan dalam upacara adat. Beras yang digunakan untuk memasak Tapa Kolo pun harus dipanen melalui serangkaian ritual adat yang dilakukan oleh para tetua adat kampung. Menariknya makanan khas ini hanya dimasak pada saat ritual adat saja yang dilakukan sekali dalam setahun. Ritual adat ini biasanya dilakukan pada awal musim menanam.

Beras merah atau yang disebut dengan ‘Dea Laka’ dalam bahasa Manggarai adalah bahan utama dalam pembuatan Tapa Kolo. Beras merah akan dibersihkan terlebih dahulu kemudian dicampur dengan darah dan lemak yang biasanya berasal dari hewan tertentu, misalnya kerbau, kambing dan babi. Kemudian dimasukan dengan daun enau muda serta daging dan dimasukan kedalam potongan bambu muda yang sudah dilapisi daun pisang dengan ditambahkan sedikit air.

Sesudah semuanya beres kita harus menyediakan api untuk membakarnya. Untuk pembakarannya dibutuhkan waktu minimal satu jam dengan kondisi api yang tidak terlalu besar. Setelah matang barulah Tapa Kolo siap menjadi santapan siang. Jenis makanan ini juga sering digunakan untuk bahan persembahan kepada para leluhur.

Kuliner yang satu ini adalah makanan yang sudah ada sejak lama dalam tradisi masyarakat di Manggarai. Tetapi buat anda para wisatawan muslim, harus berhati-hati dalam mengonsumsi makanan ini dan bertanya sebelum mengonsumsinya. Harus dipastikan apakah campurannya aman untuk anda konsumsi sebagai wisatawan muslim.(an)

Editor: Harsen Roy Tampomuri

Harsen Roy Tampomuri

Read Previous

Negara Melindungi, Begitu Hashtag Yang di Buat Kemlu RI

Read Next

Didukung Garuda Indonesia, KBRI Bangkok Pulangkan 170 WNI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *