Letjen TNI Doni Monardo: Pelopor Emas Hijau dan Emas Biru (Bagian 2-Habis)

Nurcholis MA Basyari

Jakarta, IGW News – Pada 16 Mei 2017, saya bersama Mas Aqua menghadiri Simposium Nasional Merawat Perdamaian dan Melindungi Ekosistem Maluku di Ambon yang diselenggarakan oleh Kodam XVI/Pattimura dan Universitas Pattimura (Unpatti). Di forum itu, hadir sejumlah akademisi, tokoh adat, masyarakat, agama, dan pemuda. Yang hadir antara lain mendiang Glenn Fredly, Guru Besar Unpatti Prof Dr Alex Resubun, Pendeta Dr John Ruhulessin, dan tokoh muslim Dr Abidin Wakano. Simposium tersebut menjadi ajang kesaksian para tokoh, baik sebagai pembicara maupun peserta, atas kiprah ciamik Pangdam XVI/Pattimura Mayjen TNI Doni Monardo.

Mereka mengungkapkan testimoni penuh haru biru atas jasa Pak Doni yang mampu merajut kembali ikatan pela gandong. Bagaimana Pak Doni dapat mendudukkan para tokoh, termasuk pemuda, dalam satu meja untuk saling berbicara dari hati ke hati. Padahal, hati mereka masih panas membara oleh dendam dan nafsu untuk membunuh kelompok lainnya. Hingga akhirnya mereka yang semula keras hati itu saling bersangkulan dalam tangis haru dan penuh damai.

Tidak hanya itu, Pak Doni yang sebelumnya dikenal sebagai “Jenderal Trembesi” karena kiprahnya menggalakkan penanaman pohon trembesi di berbagai tempat di Indonesia juga memperkenalkan konsep Emas Hijau dan Emas Biru. Program tersebut untuk memberdayakan masyarakat Maluku sekaligus melindungi ekosistem provinsi kepulauan yang kaya rempah dan hasil laut itu. Emas Hijau dan Emas Biru ialah program penggalakan penanaman tanaman dan buah-buahan yang bernilai ekonomi dan budidaya hasil laut.

“Saya salut sama Pak Doni. Kemampuan intelektualnya dihabiskan untuk memikirkan Maluku dan menginventarisasi semua sumber daya yang dimiliki Maluku. Apa yang Pak Doni lakukan ialah mengembangkan Archipelago Economy atau Ekonomi Archipelago,” kata Prof Dr Alex Resubun ketika itu seraya mengingatkan agar pemerintah menjadikan program tersebut sebagai kebijakan dan direalisasikan sebagai program pembangunan pemerintah.

Pendeta John Ruhulessin pun menimpali, “Mestinya gagasan Emas Hijau dan Emas Biru itu datang dari kampus Unpatti. Tapi kenapa justru konsep hebat itu diperkenalkan oleh seorang jenderal? Pak Doni layak mendapatkan gelar doktor honoris causa dari Unpatti.”

Berkat tangan dingin Pak Doni, masalah sosial Maluku teratasi. Masalah ekonomi pun mendapatkan jalan keluar. Saya pernah merasakannya dengan mendapatkan kiriman ikan segar dalam satu boks besar hasil budidaya masyarakat binaan Pak Doni di perairan Ambon. Ikannya gemuk-gemuk dan segar seperti baru diangkat dari karamba jaring apung di laut Ambon. Dan, tentu saja sehat karena hasil budidaya di laut yang jernih dan tidak terpolusi.

Saya juga pernah mendapatkan kiriman pohon nangkadak, hasil persilangan nangka dan cempedak, dari pusat pembibitan Paguyuban Budiasih, Sentul, Bogor, Jawa Barat. Bli Wayan Budi Sutomo, anggota jamaah umroh The Power of Silaturahim (POS) II yang mengirimkan ke rumah kami di Depok, diantarkan oleh Ace Syahroni Soleh, staf Budiasih yang juga anggota jamaah POS I. Bli Wayan Budi adalah orang kepercayaan Pak Doni untuk menjadi ketua pelaksana harian Paguyuban Budiasi yang dipimpin oleh Pak Doni.

Paguyuban itulah selama ini sudah memasok lebih dari 8 juta bibit tanaman dan pohon buah-buah bernilai ekonomi dan ekologi ke berbagai daerah di seluruh Indonesia dan Timor Leste. Paguyuban Budiasi tidak hanya mengirimkan bibit pohon tetapi juga menugaskan staf terbaik mereka untuk membina mitra lokal dan mengawal penanaman pohon hingga benar-benar tumbuh.

Jenderal Humanis dan Muslim Taat
Kami sempat bermalam dan sarapan pagi di rumah dinas Pangdam XVI/Pattimura bersama Pak Doni dan Bu Santi Monardo. Malamnya, kami juga sempat diajak Pak Doni dan putri beliau, Azzianti Riani Monardo, memancing di laut. Di situ, kami juga menangkap sisi humanis seorang Pangdam yang juga mantan Danjen Kopassus. Kami diperlakukan dengan baik sebagai tamu. Ajakan mancing di laut dan sarapan bareng keluarga beliau memperlihatkan sisi humanisme Pak Doni yang dikenal taat menjalani ibadah sebagai seorang muslim.

Pertemuan kami selanjutnya dengan Pak Doni berlangsung pada 17 April 2018 saat beliau menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Dewan Pertahanan Nasional (Sekjen Wantannas). Ketika itu, saya untuk kali kedua diberi amanah oleh Mas Aqua memimpin rombongan umroh The Power of Silaturahim (POS) II yang anggotanya berjumlah 39 orang. Mas Aqua selaku pemrakarasa dan penyandang dana gerakan umroh gratis The POS I 2017, POS II 2018, POS III 2019, dan POS IV 2020. Sudah memberakatkan umroh total 124 orang. Beliau memberi amanah saya untuk tetap memimpin rombongan umroh The POS.

Pak Doni yang merupakan teman akrab Mas Aqua mengundang seluruh anggota jamaah POS II ke kantor beliau di Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Jamaah POS II berangkat ke Tanah Suci 18 April 2018 kembali ke Tanah Air 26 April 2018. Selain bersilaturahim, Pak Doni juga memompakan semangat dan motivasi kepada para anggota jamaah umroh POS II. Kepada beliau, saya memperkenalkan para jamaah yang berasal dari 23 kabupaten/kota di sembilan provinsi Indonesia. Jamaah punya latar belakang beragam, yakni sebagai ibu rumah tangga, pembantu rumah tangga, petani, tukang becak, pemulung, aktivis sosial, bidan desa, aktivis lingkungan, guru, pegawai negeri sipil, dan anggota TNI/Polri.

Pada kesempatan itu, Pak Doni yang jadwalnya cukup padat juga sempat menjamu makan siang para jamaah. Beliau pun ikut makan siang bersama. Seusai makan, tuan rumah dengan ramah melayani permintaan foto bersama.

Secara khusus pula beliau memberikan perhatian dan kesempatan kepada Abah Harun untuk foto berdua. Jamaah tertua itu berasal dari Kampung Malaganti, RT 02 RW 03, Desa Sukaharja, Kecamatan. Sariwangi, Tasikmalaya, Jawa Barat. Pak Doni sangat mengapresiasi kakek berusia 80 tahun itu yang telah berjuang manatah cadas Gunung Galunggung demi membuat terowongan air. Atas jasanya itu, para petani setempat akhirnya dapat mengairi sawah mereka dari air yang mengalir via terowongan yang ditatah oleh Abah Harun dan beberapa kawannya itu. Total sawah yang mendapat air seluas 200 hektar.

Para jamaah pun pamit dalam suasana hati bungah. Mereka sebelumnya tak membayangkan akan diudang dan dijamu makan siang plus berfoto bersama dengan seorang jenderal yang ramah, berhati lembut, rendah hati, dan menghargai orang tanpa melihat latar belakang sosial-ekonomi mereka.

Tanggung Jawab & Disiplin Tak Tinggalkan Pos
Tidak salah jika kemudian Presiden Jokowi memberi amanah kepada Letjen TNI Doni Monardo untuk memimpin BNPB. Di balik keindahan dan kekayaan alamnya, sesungguhnya Indonesia juga menyimpan potensi bencana alam yang setiap saat dapat terjadi.

Berdasarkan Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) 2013 yang diterbitkan BNPB pada 2014, tidak ada satu kabupaten/kota pun di Tanah Air ini yang bebas dari ancaman bencana. Seluruh 497 kabupaten/kota Tanah Air menghadapi risiko terjadinya bencana, dari risiko tinggi hingga sedang. IRBI 2018 juga memperlihatkan seluruh 514 kabupaten/kota punya risiko bencana, 269 di antaranya berisiko tinggi sedangkan 245 kabupaten/kota sisanya berisiko sedang.

Bencana itu dapat berupa gunung meletus, gempa bumi, banjir bandang, tanah longsor, kebakaran hutan/lahan, kekeringan, dan tsunami. Wilayah Indonesia yang luas, terbentang sebagai kepulauan dari Merauke di Timur hingga Sabang di Barat, dari Miangas di Utara hingga Rotendau di Selatan.

Karena itu, manajemen dan mitigasi kebencanaan memerlukan sosok pemimpin tangguh berkualifikasi komando yang punya kapasitas, kapabilitas, integritas, dan kredibilitas. Kepemimpinan seperti itu diharapkan akan mampu menggerakkan secara mangkus (efektif) dan sangkil (efisien) segenap sumber daya yang ada dalam menghadapi setiap bencana yang terjadi.

Dengan jam terbang yang sangat tinggi dan pengalaman luas di berbagai medan penugasan, Pak Doni punya kualifikasi tersebut. Setengah jam setelah dilantik sebagai Kepala BNPB oleh Presiden Jokowi pada 9 Januari 2019, beliau langsung tancap gas rapat bersama Wapres Jusuf Kalla. Rapat membahas pemulihan dan percepatan pembangunan pascabencana alam melanda kawasan NTB, Palu, dan Selat Sunda.

Pak Doni mempekenalkan pendekatan rekonstruksi dan rehabilitasi daerah bencana yang menekankan semangat gotong royong dalam mengoptimalkan pemanfaatan seluruh sumber daya dan kearifan lokal di wilayah terjadinya bencana. “Pendekatan ini, kami menyebutnya Penta Helix, yang memprioritaskan penggunaan konteks lokal; kearifan lokal; sumber daya lokal sesuai dengan jiwa gotong royong Pancasila,” kata Pak Doni saat tampil di acara Global Platform For Disaster Risk Reduction di Jenewa, Swiss, 16 Mei 2019 pukul 10.45 waktu setempat.

Kini, Presiden Jokowi kembali mempercayakan amanah di pundak Pak Doni untuk memimpin perang semesta melawan korona sebagai Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Inilah perang dunia sesungguhnya yang belum pernah melanda planet bumi ini sebelumnya, tidak pada Perang Dunia I, tidak juga pada Perang Dunia II. Musuh yang dihadapi seluruh negara pun sama, yakni virus tidak kasat mata yang dikenal sebagai Covid-19.

Kali ini, berdasarkan data situs www.worldometers, perang melawan korona berkecamuk di 212 negara. Per Minggu (10/5/2020), jumlah kasus positif Covid-19 global mencapai 4.132.373 orang, sebanyak 281.061 di antaranya meninggal dunia. Adapun di Indonesia, kasus yang terkonfirmasi positif mencapai 14.032 orang, 973 di antaranya meninggal dunia.

Pak Doni tampaknya paham betul, seperti pada perang konvensional yang beliau alami di medan tempur Timor Timur, Papua, dan Aceh, perang kali ini tidak main-main. Bahkan lebih berbahaya karena menghadapi musuh yang tidak kasat mata. Belum lagi tingkah polah warga dan –terutama- para pejabat yang sejak awal secara kasat mata menampakkan ego masing-masing dan bersikap menganggap enteng. Mereka tampaknya terlalu congkak untuk menyadari bahwa kita sesungguhnya sedang dalam keadaan darurat perang melawan korona.

Musuh tersebut sesungguhnya juga gampang terkalahkan. Namun, ketidakdisiplinan, egoisme sektoral dan individual serta tindakan ceroboh tidak mematuhi protokol kesehatan secara ketat dan disiplin, justru dapat memposisikan covid-19 sebagai virus yang seolah kita pelihara dan dibiarkan merajalela berkepanjangan. Virus tersebut seolah leluasa bergerak menyergap warga tanpa mengenal ruang dan waktu.

Pak Doni jelas menyadari betul kondisi tersebut. Karena itu, sebagai prajurit komando dan tentara profesional yang kini dipercaya sebagai panglima perang semesta melawan korona, beliau ingin memastikan satu hal. Yakni: agar perang melawan korona ini dilancarkan dalam satu komando yang terstruktur, sistematis, dan secara masif-terukur.

Untuk itulah, beliau rela “berkemah” di Markas BNPB untuk memimpin langsung peperangan tersebut. Momen ulang tahun yang biasa beliau rayakan bersama keluarga dan orang-orang terkasih tak mengendurkan disiplinnya untuk tidak meninggalkan pos, sekalipun bertepatan dengan hari libur Minggu.

Selamat Ulang Tahun Jenderal! Semoga ALLAH SWT berkahi Anda umur yang bermanfaat, tetap sehat dan fit serta bahagia untuk terus memimpin perang semesta melawan korona dan keluar sebagai pemenang. Insyaa ALLAH kita akan menang perang melawan korona dan perang melawan hawa nafsu egoisme seiring dengan berakhirnya Ramadhan nanti. Tabik!!!

Penulis: Nurcholis MA Basyari (Ketua Dewan Redaksi IGW News & kepala rombongan umroh The Power of Silaturahim I, II, III, dan IV)

Harsen Roy Tampomuri

Read Previous

Letjen TNI Doni Monardo: Sosok Panglima Perang Unik dan Langka (Bagian 1 dari 2 Tulisan)

Read Next

Kolaborasi Dengan Psikolog, KRI Darwin Adakan Obrolan Sehat dan Santai di Rumah Saja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *