Inilah yang Terjadi Jika Pandemi Virus Korona Tidak Kunjung Berakhir

Wabah Covid-19 masih membayangi dunia sejak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendeklarasikannya sebagai pandemi global 12 Maret silam. Hingga hari ini (Minggu, 17/5/2020), berdasarkan situs www.worldometers, virus korona jenis baru itu telah berjangkit di 213 negara. Total kasus tercatat 4.722.233 orang, sebanyak 313.266 orang di antaranya meninggal dan 1.813.014 pasien lainnya sembuh.

Berbagai prediksi dari ilmuwan seluruh dunia kemudian muncul mengenai sampai kapan pandemi akan terjadi. Ada yang memprediksi puncak pandemi di Indonesia terjadi Mei ini. Ada juga yang memperkirakan puncaknya akan terjadi pada Juni-Juli dan akan berakhir pada Oktober. Adapun di di tingkat global, ada yang memprediksi pandemi akan berakhir akhir tahun ini.

Apa yang akan terjadi jika pandemi Covid-19 itu terjadi selama itu bahkan lebih lama lagi?

Anjloknya Perekonomian  Nasional

Dampak Covid-19 tampaknya berimbas pada semua sektor ekonomi. Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun ini akan tertekan di level 2,1%. Hal ini disebabkan oleh terus meluasnya persebaran Covid-19 baik di dalam negeri maupun luar negeri. Bank Indonesia (BI) pun telah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi RI menjadi jauh di bawah 5%, yakni berkisar 2,5%. Banyak usaha kecil menengah (UKM) menutup usaha mereka sehingga terjadilah pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan Perkasa Roeslani dalam suatu diskusi virtual yang diselenggarakan oleh Narasi Institute menyampaikan korban PHK telah mencapai lebih dari 6,5 juta orang.

Bertambahnya Angka Kemiskinan

Pandeminya Covid-19 di Indonesia menambah angka kemiskinan meningkat lantaran banyak mata pencaharian sehari-hari yang hilang. Penerapan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mencegah penyebaran virus yang per Sabtu (16/5/2020) menjangkiti 17.025 orang di 386 kabupaten/kota pada 34 provinsi tentu berdampak pada aktivitas warga, termasuk kegiatan ekonomi.

“Banyak orang kehilangan pekerjaan dan banyak warung kecil yang tutup. Jadi, jumlah orang miskin pun makin bertambah. Mungkin di sekitar kita juga banyak orang yang terdampak corona ini,” kata Wakil Presiden Ma’ruf Amin.

Hasil riset SMERU Research Institute terbaru yang dirilis 17 April silam memperlihatkan proyeksi angka kemiskinan akibat pandemi Covid-19. SMERU memprediksi angka kemiskinan pada Maret 2020 naik menjadi 9,7-12,4% atau bertambah 1,3 juta-8,5 juta orang miskin baru. Dengan demikian, pada bulan tersebut, Jumlah penduduk miskin di seantero negeri pun bertambah menjadi 33,24 juta orang, bertambah 8,5 juta orang miskin baru. Angka kemiskinan 12,4% setara dengan kondisi pada 2011.

Kebergantunga pada Teknologi

Tidak bisa dipungkiri  jika pandemi ini terus berlanjut semua orang akan bergantung pada teknologi. Semua pekerjaan akan ditangani oleh teknolgi dari urusan belanja, bekerja, sampai proses pembelajaran, dan masih banyak lagi.

Peningkatan Transaksi Non-tunai

Transaksi non tunai mengalami perkembangan yang cukup pesat. Hal ini ditunjang dengan perkembangan teknologi e-commerce yang semakin maju sehingga memungkinkan masyarakat untuk melakukan transaksi jual beli secara online.

Kini sejak virus corona menyebar ke berbagai negara, jumlah transaksi non tunai semakin meningkat. Banyak merchant atau toko yang membatasi bahkan tidak menerima transaksi tunai dan dialihkan ke transaksi non tunai, baik transfer maupun gesek kartu debet atau kredit pada mesin EDC (Electronic Data Capture). Hal ini didasakan pada ketakutan masyarakat terhadap keamanan uang yang secara fisik mudah menularkan virus.

Managing Director GoPay Budi Gandasoebrata mengakui selama masa pandemi korona, transaksi di GoPay meningkat. Hal itu lantaran perubahan pola belanja dan transaksi para pengguna aplikasi pembayaran virtual itu. Namun, Budi tidak merinci nominal atau persentasi peningkatannya.

Bank Indonesia (BI) pun tampak memanfaatkan momentum pandemi korona untuk menggencarkan kampanye transaksi non-tunai sebagai gaya hidup.

Berkurangnya Interaksi Sosial Di Masyarakat

Proses penyebaran Covid-19 sangat cepat dan menular dari manusia ke manusia lainnya sehingga pemerintah melarang acara yang melibatkan banyak orang. Penerapan kebijakan jaga jarak fisik dan sosial ini untuk mencegah rantai penyebaran virus tersebut. Penularan virus korona terjadi dari droplet atau cairan yang keluar saat berbicara, bersin atau batuk. Ketika virus dalam droplet tersebut menempal pada media seperti meja, baju, kertas, dan lainnya, mereka mampu bertahan dalam hitungan jam bahkan hari. Oleh sebab itu, sejak merebaknya virus korona terjadi perubahan sosial dalam masyarakat berkenaan dengan cara berinteraksi.

Masyarakat kini menghindari jabat tangan, cipika cipiki atau mencium pipi kanan dan kiri, berpelukan, bahkan untuk berbicara pun mereka menjaga jarak minimal satu meter. Hal ini jelas di luar kebiasaan masyarakat dalam bersosialisasi dan menjalin keakraban. Jika sebelum adanya virus corona, masyarakat begitu mudahnya saling bersentuhan secara umum. Namun, kini tidak lagi. Masyarakat juga harus memakai masker. (AN)

Nurcholis Basyari

Read Previous

Letjen TNI Doni Monardo Instruksikan Grup Lion Air Ketat Terapkan Protokol Kesehatan

Read Next

KJRI Cape Town Berikan Bantuan Logistik Kepada Para ABK WNI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *