Kisah “Pembebasan” PMI Hong Kong Yang Tertahan di Wisma Karantina Korona Jakarta

Jakarta, IGW News – Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Hong Kong ini senang bukan kepalang. Setelah sempat tertahan di Wisma Karantina Jakarta selama sepekan, Jumat (22/5/2020) siang ini PMI asal Lampung itu dapat terbang ke kampung halamannya untuk berkumpul bersama keluarga tercintanya.

Asti Maryani (26 tahun), merasa bersyukur karena Tuhan mengirim “malaikat” berwujud manusia yang menolongnya atas dorongan kemanusiaan dan cinta kasih terhadap sesama. Siapa dia? Ikuti kisahnya berikut ini.

Vice President Ground Services Garuda Indonesia Engelin Yolanda Kardinal (paling kanan) dan staf Garuda Indonesia mendampingi Pekerja Migran Indonesia (PMI) Asti Maryani (tengah) di Bandara Soekarno-Hatta Tangerang, Banten, Jumat (22/5/2020). Asti sempat tertahan di Wisma Karantina pademangan, Jakarta, setelah tiba dari Hong Kong, Kamis (14/5/2020). Asti pulang ke kampung halamannya di Lampung Tengah setelah kontrak kerjanya selama dua tahun habis. (IST)

Asti pulang ke Indonesia setelah dua tahun bekerja di Hong Kong. Momentumnya boleh dibilang pas, bisa pula dikatakan kurang pas. Pas karena masa kontrak kerjanya habis bersamaan dengan momen menyambut Idul Fitri 1441 H tahun ini. Jadi, dia bisa pulang kampung dulu melepas rindu pada orangtua dan adiknya yang semata wayang. Kurang pas karena berbarengan dengan terjadinya pandemi virus korona baru Covid-19. Tentu terbayang betapa ribetnya urusan yang bakal dia hadapi terkait penerapan protokol kesehatan guna mencegah penyebaran virus yang per dini hari ini (Jumat, 22/5/2020), menurut situs www.worldometers.info, telah menjangkiti 5.189.178 orang di 213 negara. Dari jumlah tersebut, yang sembuh mencapai 2.078.557 pasien, sedangkan yang meninggal sebanyak 334.072 orang. Adapun di Indonesia, menurut data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 per Kamis (21/5/2020), jumlah kasus positif korona jenis baru itu mencapai 20.162, sebanyak 4.838 di antaranya sembuh dan 1.278 lainnya meninggal dunia.

“Aslmkm pak ini saya Asti. Saya di Wisma Karantina dr tgl 14 Mei 2020 sampai sekarang belum bisa pulang karena ada masalah sedikit. Sedangkan teman-teman saya sudah pulang semua. Hasil tes swab saya negatif,” kata Asti menyampaikan persoalan yang dia hadapi via pesan whatapps (WA) kepada “malaikat” penolong yang sama sekali tidak dia kenal dan belum pernah pula dia mengontaknya, apalagi bertemu tatap muka.

Bagaimana ceritanya sampai Asti “nyangkut di Wisma Karantina Pademangan itu? Inilah penuturan Aqua Dwipayana, pakar komunikasi sekaligus motivator kondang yang telah tampil di hadapan ratusan ribu orang di seluruh Indonesia dan puluhan negara. Ayah dua anak, yang salah satunya bekerja di perusahaan farmasi terkemuka Daewoong di Seoul, Korea Selatan, itulah “malaikat” penolong Asti.

Foto: IST

Menurut master dan doktor ilmu komunikasi jebolan Universitas Padjadjaran Bandung itu, “drama pembebasan“ Asti bermula dari informasi yang disampaikan oleh Vice President Ground Services Garuda Indonesia Engelin Yolanda Kardinal, Kamis siang (21/5/2020). Kepada Aqua, Engelin menyampaikan ada seorang pekerja migran indonesia dari Hong Kong bernama Asti Maryani yang telah sepekan tertahan di di Wisma Karantina Jakarta.

“Mohon izin Pak Aqua. Bapak berkenan membantu seorang PMI yang masuk Wisma Karantina sejak Kamis (14/5/2020) lalu. Beliau belum bisa meninggalkan tempat itu untuk balik ke daerah asalnya. Semoga atas bantuan Bapak ada keajaiban dari TUHAN. Pasti anaknya ingin balik secepatnya apalagi beberapa hari lagi Lebaran Idul Fitri,” ungkap Engelin.

Surat Sakti, Sabar, dan Doa

Aqua kemudian meminta Engelin menyampaikan ke Asti agar mengontak langsung suami Retno Setiasih itu. “Hal itu sengaja saya lakukan agar tahu secara detil masalahnya. Jadi, kalau mau membantu paham apa saja yang harus saya lakukan dan menghubungi orang yang tepat,” ujar Aqua yang lulusan Jurusan Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur, itu.

Setelah Asti memperkenalkan diri dengan mengirimkan pesan via WA tersebut, Aqua langsung menelpon Asti. Sulung dari dua bersaudara itu menceritakan semua masalahnya. Aqua menyimak kronologi yang disampaikan Asti.

“Kepada Asti, saya pesankan agar sabar dan banyak berdoa. Kalau memang hasil tes swab-nya negatif, saya janji untuk membantu menguruskan secara maksimal agar dia bisa secepatnya keluar dari Wisma Karantina Jakarta,” kata Aqua seraya meminta Asti mengirimkan semua data pendukung tentang dirinya. Secara spesifik, Aqua meminta Asti mengirimkan bukti Surat Keterangan Sehat dan Rekomendasi yang ditandatangani Wakil Pangkogasgabpad Wisma Atlet Brigjen TNI Muhammad Saleh Mustafa dan Kasubdit Kekarantinaan Kesehatan Dit. Surveilans dan Karantina Kesehatan dr Benget Saragih. Pejabat TNI dan Kementerian Kesehatan itu teman karib Aqua.

Menurut Aqua, dua dokumen itu merupakan surat sakti jika Asti ingin keluar dari Wisma Karantina Jakarta. Semua surat pendukung itu sengaja dia minta ke Asti sebagai dasar untuk mengurus agar perempuan PMI itu bisa meninggalkan Wisma Karantina Jakarta. Adanya surat tersebut akan mempermudah Aqua berkoordinasi untuk mengeluarkan Asti dari Wisma Karantina.

Setelah suratnya lengkap, Aqua kemudian mengontak Brigjen TNI Muhammad Saleh Mustafa. Kepada Saleh, Aqua menceritakan tentang Asti dan mengirimkan seluruh data PMI tersebut, termasuk Surat Keterangan Sehat dan Rekomendasi yang ditandatangani Saleh.

“Siap Pak Aqua. Nanti saya cek ya. Kalau memang semua persyaratan lengkap, saya akan kontak anggota di lapangan untuk mengizinkan yang bersangkutan meninggalkan Wisma Karantina Jakarta,” ujar Saleh.

Selanjutnya, Aqua menyampaikan perkembangan upaya yang dia lakukan untuk membantu Asti segera mewujudkan mimpinya bertemu dengan bapak dan adiknya di kampung halaman mereka di Lampung Tengah.

Asti pun lega. Dia bersyukur penuh haru karena akhirnya diizinkan meninggalkan Wisma Karantina Jakarta. Kamis (20/5/2020) sore itu juga. Sayang, dia harus menunda kepulangannya. Kali ini, dia terkendala oleh tiadanya jadwal penerbangan selepas keluarnya izin meninggalkan Wisma Karantina. Asti pun memutuskan balik kampungnya pada keesokan hari (Jumat, 21/5/2020).

Betah Kerja di Hong Kong, Gajinya Tinggi

Kondisi ekonomi orang tuanya yang kurang mampu mendorong anak sulung dari dua bersaudara itu dua  tahun lalu memutuskan meninggalkan kampung halamannya. Dia berangkat sendiri ke Hong Kong untuk mengadu nasib di wilayah bekas koloni Inggris itu.

“Sebelum ke Hong Kong, saya sekitar empat tahun kerja sebagai pembantu rumah tangga di Lampung. Setelah itu saya putuskan bekerja di negara tersebut,” ujar perempuan kelahiran 1994 itu.

Asti di Hong Kong bekerja di suatu restoran. Majikannya bernama Li Yick May. Gajinya per bulan 4.630 dolar Hong Kong atau sekira Rp9 juta.

“Saya betah kerja di Hong Kong karena tempat kerjanya nyaman dan menyenangkan. Begitu juga teman-teman saya yang salah seorangnya dari Surabaya, Jawa Timur. Meski majikan saya kurang begitu baik,” jelasnya.

Asti memutuskan pulang karena kontrak kerjanya habis. Asti hanya menghabiskan waktu libur bersama keluarganya itu sekira dua bulan. Pada 1 Agustus 2020 dia akan kembali ke Hong Kong.

Rencananya, siang ini (Jumat, 22/5/2020) pukul 12.35 dia terbang naik Garuda Indonesia kembali ke Lampung. Asti sudah tidak sabar ingin bertemu Mustras, bapaknya yang sehari-hari bekerja sebagai petani dan adiknya Dwi Fitri Angraini. Adapun Sedang Ibu mereka, Dwi Astuti, sudah meninggal.

Tidak lupa, Asti berterima kasih kepada Aqua atas bantuan tulus kepada dirinya yang sesungguhnya tidak dia kenal. “Terima kasih banyak Pak Aqua karena sudah membantu saya,” katanya. Berkat bantuan itu, Asti akan segera bertemu keluarganya. (Nic)

Nurcholis Basyari

Read Previous

PWI Peduli Salurkan 200 Paket Bantuan Pegawai Kementerian PUPR

Read Next

PWI Pusat Apresiasi Dukungan Sejumlah Gubernur Terhadap Media di Tengah Wabah Covid-19

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *